My Profile

Tentang Dia…

 

 

Anda memiliki waktu seumur hidup untuk bekerja, namun anak – anak hanya memiliki masa kecil sekali. Unknow.

Sukses adalah sebuah perjalanan, bukan tujuan akhir (Ben Sweetland). ungkapan di atas merupakan gambaran ghiroh bagi perempuan ini bahwa hidup harus berproses, bermetamorfisis dari ulat menjadi kupu-kupu yang sangat cantik. Perempuan bertubuh mungil dan berkulit sawo matang serta sangat terkenal cerewetnya bernama Resa Nur Rahmat. Beliau lahir di Bandung, tepatnya Kp. Junti Hilir RT. 02/04 Ds. Sangkanhurip Kec. Katapang Kab. Bandung pada tanggal 21 Desember 1990. Sejak kecil beliau akrab dipanggil dengan nama Amboi. Namun, kini panggilan Echa/Kochan melekat di hati setiap orang yang mengenal dan menyayanginya.

 Saat ini beliau berkuliah di Jurusan Bimbingan dan Penyuluhan Islam (BPI), Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Angkatan 2009. Di sela – sela aktivitas kuliahnya, waktunya Beliau dedikasikan untuk aktif dan berkontribusi di salah satu organisasi ekstra kampus yaitu Himpunan Mahasiswa Islam (HmI) Komisariat Dakwah dan Komunikasi yang berfungsi sebagai organisasi kader. Dan berkedudukan sebagai Ketua Bidang P3A (Penelitian, Pembinaan, dan Pengembangan Anggota) Periode 2011/2012, dan mempunyai jargon untuk “Memanusiakan Manusia”.

Tentang Ayah dan Ibu…

Do’a anak shalihlah yang akan Allah kabulkan. Ya Allah…jika diri ini belum menjadi anak shalih, hanya satu pintaku pada-Mu. Kabulkanlah do’a ku ketika aku mendo’akan kedua orang tuaku.

Siti Al-Adawiyah.

Buah hati pertama dari tiga bersaudara, lahir dari rahim seorang Ibu yang bernama Dede Sudarsih, dan Ayah yang bernama K. Rahmat. Tumbuh dalam keluarga dengan latar yang sangat sederhana, namun tak kurang akan kasih sayang keluarga. Tapi satu hal yang paling Beliau hargai adalah tentang bagaimana orang tuanya tetap memberikan pilihan – pilihan di tangan Beliau sendiri, bagaimana mereka tetap memberikan ruang bagi Beliau untuk menjadi Manusia Merdeka, bebas mengekspresikan diri (meskipun ada batas – batasan tertentu yang tetap tidak boleh dilanggar), mengungkapkan pendapat, dan lain – lain. “Ruang macam inilah yang saya pandang memberikan kesempatan bagi saya untuk jadi seperti sekarang”. Tutur Beliau.

“dulu memang tidak seperti sekarang, namun kini Ayah dan Ibu tidak pernah memaksakan kehendaknya, tetapi selalu melibatkan saya dalam setiap keputusan yang terkait dengan saya secara langsung. Sesekali memang mereka memberikan tuntunan, namun pada akhirnya pilihan ada di tangan saya”. Tutur Beliau.

Kebebasan dan demokrasi itu tidak membuat Beliau kemudian justru jadi “liar”, tapi sebaliknya, justru merasa bertanggungjawab atas setiap pilihan yang Beliau ambil. Ketika Beliau melakukan kesalahan, Sang Ayah hanya berkata, “Kamu yang pilih itu kan?”.

Kedua orang tua Beliau memang tidak berlatar belakang pendidikan yang kuat. Ayah dan Ibu hanyalah lulusan SD. Dan keluarga Beliau pun bukan keluarga yang hidup berlimpah ruah harta. Ayah hanya seorang Wiraswasta, dan Ibu hanyalah seorang Ibu Rumah Tangga (irt). Tapi jangan salah, untuk hal membentuk anak menjadi tumpuan Bangsa dan Agama mereka sangat ahli. Mereka mungkin tidak gemar berlama – lama dengan buku, tapi mereka ingin anaknya tidak pernah kekurangan buku untuk dibaca. Mereka mungkin tidak pernah mengecap bangku kuliah, tapi mereka ingin buah hatinya kuliah setinggi tingginya. Begitulah Ayah dan Ibu, Beliau.

Ketika Penulis bertanya kepada Beliau, “Mana aktivitas yang paling menggetarkan?”. Sulit sekali menjawabnya. Entahlah, bagi saya setiap aktivitas yang mereka lakukan untuk saya, agar saya berhasil, begitu besar artinya. Sehingga sedih sekali ketika saya melakukan sesuatu yang membuat kedua orang tua saya kecewa.

Yang Beliau Hargai…

Tiada insan suci yang mempunyai masa lampau. Tiada insan berdosa yang tidak mempunyai masa depan.

anonim

Perjalanan hidup saya jalani sepanjang 21 tahun saya di dunia ini membawa saya pada titik dimana saya merasa bersyukur dengan segala hal yang diberikan Allah SWT. kepada saya.

Menghargai diri saya, dengan segala kelebihan dan kekurangan. Bersyukur kepada Tuhan yang telah menciptakan seorang perempuan yang tidak pernah berhenti menyerah, bersemangat, dan mau belajar. Saya percaya bahwa saya dilahirkan ke dunia ini dengan tujuan. Menjadi solusi, dan bukannya jadi masalah. Meninggalkan jejak pengalaman untuk anak, cucu, dan orang – orang di sekitar saya. Tutur Beliau.

Beliau adalah seorang yang sangat menghargai dedikasi keluarganya. Keluarga yang tanpa pamrih, komitmen tanpa putus, dan rasa cinta tak terbendung untuk menjadikan Beliau menjadi seperti sekarang ini. Orang tua yang telah memberikan kesempatan kepada Beliau untuk mengecap pendidikan yang berkualitas, meski dengan perekonomian yang serba pas – pasan.

Beliau sangat menghargai orang – orang di sekitar atas pelajaran hidup yang begitu luar biasa. Mengajarkan Beliau tentang berbagai hal, menunjukkan inspirasi yang menggugah Beliau untuk beraksi. Air mata kepedihan masyarakatlah yang menjadi pecut bagi Beliau untuk tidak pernah berhenti bergerak. Tawa dan senyuman lepas mereka yang jadi pengobat luka di saat – saat Beliau merasa letih dan lelah melakukan semua ini. “Tak mampu saya menyebut orang – orang yang telah berjasa dalam kehidupan saya, tak putus kata menguraikan nama dan pengabdian yang mereka lakukan. Hanya rasa terima kasih, terima kasih”. Tutur Beliau.

Menghargai Indonesia, negeri yang tidak pernah berubah rasa cinta Beliau kepadanya. Saat sulit maupun saat bahagia, rasa bangga menjadi Muslim Indonesia. Negeri yang selalu memacu Beliau untuk bergerak, menginspirasi dan mengabdi lewat karya nyata. Negeri dimana masa depan dan impian Beliau berlabuh, dan ditautkan kepadanya.

“Menghargai kehidupan ini, entah bagaimana caranya, tapi…terima kasih Tuhan untuk kehidupan yang saya jalani ini. Tak pernah terbesit pikiran untuk menyia – nyiakan anugerah ini”. Tutur Beliau.

Simbolisasi dan Imaji…

Apa yang ada di belakang kita dan apa yang ada di depan kita, tidaklah ada artinya jika dibandingkan dengan apa yang ada di dalam diri kita.

Happy Sugiarto Tjandra.

Sulit sekali mencari simbolisasi diri Beliau, karena kompleksitas imaji akan diri Beliau. Tapi berdasarkan pengamatan Penulis, Beliau adalah orang yang sangat energik, aktif, bahkan sangat mencintai dunia sosial. “Aku tidak seperti orang lain yang mempunyai cita-cita ingin pergi dan berkarir di luar negeri, cita-citaku sederhana, aku ingin membuatkan rumah dan memberikan pendidikan bagi mereka yang tidak mempunyai kesempatan seperti ku. Aku ingin mengubah dunia lewat tanganku dan tangan mereka” Tutur Beliau.

 

Imaji Untuk Indonesia…

Imajinasi jauh lebih penting dari pada pengetahuan. Imagination is more important than knowledge.

Albert Einstein.

Beliau selalu punya bayangan dan harapan besar untuk Indonesia. Entahlah mungkin karena kecintaan berlebih Beliau pada negeri dimana Beliau lahir, dan negeri dimana Beliau ingin akhir perjalanannya juga berakhir disini. Bukan kecintaan semu, tapi kecintaan tanpa syarat.

Harapan Beliau untuk negeri ini ialah menjadi negeri yang selalu menjunjung nilai – nilai budaya (kearifan lokal) yang diterapkan di setiap lini kehidupan.

_AKU_

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s