CERPEN: Edelweis

Posted: 23/05/2012 in Public

EDELWEIS

Oleh: Asman Abdullah

Inilah aku meninggalkan semua cerita dirimu, tentang kita, dan semuanya,  bersama perjalanan ratusan kilometer ke tempat para “bangsawan Indonesia”.  Aku tidak tahu, mungkin ini sebuah pelarian atau tindakan kepengecutan yang tidak bisa menerima penghianatan cinta. Udara dingin kereta api kelas ekonomi membawa suasana hati ikut membeku bersama ingatan kebersamaan kita di hari-hari yang dipenuhi dengan tawa manismu.

Akhinya aroma kota Jakarta mulai tercium dari hutan beton yang menghiasi kota megapolitan ini. Menurut sejumlah pakar perkotaan, kota Jakarta saat ini bukan lagi kota metropolitan tapi sudah menjadi kota megapolitan. Itu kata para pakar namun bagiku semua nampak sama, tetap saja saya merasakan kesunyian dari bisingnya suara mesin kendaraan setiap kami melewati beberapa stasium sebelum tiba di stasium senen. Menetap jauh kearah depan yang terlihat hanya lalu lalang pedagang asongan seakan tak pernah lelah menjajakan barang dagangan hingga stasiun terakhir. Teriakan mereka tak peduli dengan penumpang yang sedang tidur, hanya ada satu hal menjadi prinsip ‘setiap kesempatan adalah peluang untuk mengais reseki’, pikirku’ inilah hukum ekonomi yang berlaku di kereta api.

Setibanya di stasium senen bersama dengan dua kawan supporter dari Yogyakarta kami menuju ke daerah tanah abang untuk menumpang menginap di kost teman. kepergian kami hanya untuk mendukung tim kesayangan kami, PSM Makassar yang akan berlaga di lebak bulus menghadapi Persija Jakarta. Rencananya kami akan tinggal di Jakarta dua hari saja. Segala keperluan kami selama tinggal di Jakarta dibantu oleh Yudi, salah seorang koordinator supporter PSM wilayah Jakarta dan Bandung.

Di dalam kamar kost berukuran tiga kali lima meter kami beristirahat sebelum sore nanti berangkat ke stadion lebak bulus. Aku tidak sadar selama perjalanan kedua kawan saya ini ternyata memperhatikan semua tingkah laku yang berbeda dari saya. Mereka akhirnya memberanikan diri untuk bertanya, dengan nada tulus’ anton mulai bertanya, ada apa denganmu kawan ? selama perjalanaan kami perhatikan, kamu seakan kehilangan semangat untuk berangkat ke Jakarta ! sambil meneguk kopi pahit buatan Yudi, saya belum mengeluarkan jawaban apa-apa. Tatapan mereka seperti seorang polisi sedang memeriksa tersangka, belum lagi ada jawaban. Bambang menyahut’ Cinta yang sejati itu hanya ada dalam puisi, syair, gubahan lagu, film dan novel percintaan kawan, sadarlah’ . Seakan dia bisa membaca seluruh isi pikiranku, aku hanya diam belum lagi mengeluarkan sepatah kata pun.….

Lalu akhirnya aku mulai percakapan, dulu waktu aku menyatakan cinta kepada Dewi kuberikan setangkai edelweiss sebagai simbol keabadian cinta dengan di iringi petikan lagu nan syahdu dari kamu toh, sambil melihat kearah bambang.  Itu pun kamu yang menyusun semua rencana katakan cinta waktu itu. Kamu bilang edelweiss punya sakralitas jika diberikan kepada orang yang kita cintai. Menurut kamu edelweiss adalah bunga yang tidak akan pernah layu, begitu juga yang aku harapkan dari hubunganku dengan Dewi. Saya tidak ingin cinta yang menipu, ini kata terakhir dari obrolan singkat menjadi pengantar tidur kami ke alam surgawi (pagi hari, 04.35).

Setelah menonton pertandingan antara PSM versus Persija, dengan skors 1-0 kekalahan ini merupakan kekalahan kedua kalinya bagi tim PSM Makassar dalam laga tandang. Yang menarik dari pertandingan hari ini, gol dicetak oleh Abanda Herman mantan pemain PSM Makassar musim sebelumnya.  Sebelum kami balik ke Yogyakarta kami sempatkan singgah di bandung selama dua hari, itu juga atas desakan supporter PSM bandung. Dibandung kami tinggal di kost Roy seorang mahasiswa UNISBA, Roy teman SMA Bambang sewaktu di Makassar.

Pertemuanku dengan gadis berkerudung cokelat itu juga tanpa sengaja, ketika kami dia ajak ke UNISBA berkeliling oleh Roy. Gadis berkerudung cokelat berada tidak jauh dari tempat duduk kami di kantin dekat taman, dia lagi sendiri dan tengah asyik membaca novel. Cukup dekat bagiku memastikan bahwa novel itu berjudul Mustafa Chamran. Ada apa dengan isi novel itu ? dia bagai berada di dunia lain dan tidak memperhatikan saya yang terus memandang kearahnya. Saya kemudian bertanya ke roy, kamu kenal gak perempuan yang duduk di  belakang kamu yang berkerudung cokelat dengan motif bunga edelweis ? sambil menoleh kebelakang untuk memastikan’ Iya. Roy lantas melanjutkan ceritanya, dia temanku di pers mahasiswa, memang ada apa ? tanpa pikir panjang lagi takut kehilangan kesempatan berkenalan dengan perempuan itu, aku akhir meminta Roy memperkenalkan aku dengan dia.

Semantara Roy menyapa temannya itu, aku terus memperhatikan perempuan takut-takut kalau dia menolak untuk bekenalan, akhirnya berkat lobi gesit dengan sedikit retorika dari Roy, dia akhirnya mau berkenalan. Isyarat dari Roy menandakan aku harus segera menghampirinya, kenalkan aku rahmat sangkuru, belum lagi di jawab dia bertanya, kenapa kamu ingin berkenalan denganku ? kujawab, Karena aku melihat Tuhan dalam dirimu. Setelah mendengar jawabanku, bersamaan dengan itu dia mengangkat tangan bak’ Roro Jonggrang sekan-akan hendak bersemedi dia mengucapkan namanya Siti Ahrani yang terdengar seperti dawai kecapi seorang petualang laut tujuh samuderah. Bening matanya layaknya mutiara hitam diatas pasir putih pantai Bira. Debar jantung ini sudah tak menentu bagai genderang perang Makassar. Jika harus mengejar cintanya walaupun harus meruntuhkan gunung latimojong itu akan terjadi hari ini. Pikiran ini sudah mengeja prosa dalam jejak hati membawa kealam yang benar-benar berbeda.

Sehari kemudian kami pulang ke Yogyakarta, tanpa bisa melupakannya. Setelah perjumpaan pertama dengan Ahrani, aku dan Ahrani mulai rutin berkomunikasi walaupun hanya satu kali bertemu.  Bagaimana mungkin hanya dengan sekali bertemu kami seakan di liputi perasaan yang sama, ini yang mungkin disebut kerinduan. Dua bulan berlalu, aku memutuskan untuk mengungkapkan perasaanku kepadanya dia menyambutnya dengan suka cita.

Aku bertanya kepadanya, Apakah tuhan akan cemburu jika aku mencintaimu ? Ahrani menjawab dengan dengan lembut, tidak karena dengan cinta Tuhan kita bisa bersama dengan perasaan yang aneh dan tidak pernah kumiliki dengan yang lain selain dirimu. Sebulan kemudian Ahrani harus berangkat ke Iran mengikuti program S2 beasiswa khusus setelah menempu studi S1 di UNISBA.

Hubungan yang hanya melalui dunia maya ini, harus di lanjutkan dengan kepergiannya ke Iran untuk melanjutkan studi sosiologi agama. Kalau kemarin kami dipisahkan provinsi kini kami terpisah oleh negara. Dia hanya berkata, Jika engkau manunggu maka cukuplah itu jadi ikatan perjanjian kita hari ini dan tuhan menjadi saksi atas semua maksud hati. Kehendak hati seperti sebuah doa, karena doa adalah perwujujudan cinta dan harapan, aku berdoa kepada Tuhan semoga engkau adalah jodohku di perjumpaaan berikutnya, kekasihku. Cintaku kepada Ahrani penuh dengan imajinasi itulah tersisa hari ini. Oh Tuhan, kamilah makhluk pengemis keabadian meminta dariMu pemilik keabadian, bahkan edelweiss pun kami gunakan hanyalah perantara di antara keagunganMu menandai hubunga-hubungan dunia ini.

Semantara itu, dewi puspita perempuan masa lalu terus hadir di setiap jejak kaki ini melangkah. Dewi puspita adalah seorang gadis Indo keturunan belanda-Indonesia, petualang dunia teater dan pencerita ulung mengenai filsafat perancis, dialah yang sering bercerita kepadaku tentang absurditas kehidupan, dalam rak-rak bukunya tersimpan kode-kode rahasia alam semesta. Dialah imajinasiku tentang perancis .

Beberapa bulan semenjak kepergian Ahrani ke Iran, aku mulai kehilangan kontak dengan dia. Ini masa-masa sulit bagiku, semantara itu dewi puspita terus berusaha hadir lagi dalam hidupku. Dewi pertama kali bertemu denganku di LIP (lembaga Indonesia Prancis). Perempuan yang mengajarkan rasa sakit untuk pertama kalinya, bahkan dia akan memberikan petualangan percintaan dengan eksperimentasi sebuah penjelajahan lekuk tubuh tanpa batas. Itu pun jika aku mau. Kita boleh berbagi semua hal didunia ini, itu bebas, tapi kamu tidak akan pernah memiliki kebebasanku, Ungkapnya. Kata-kata sering aku dengar ketika kami masih pacaran.

Sebulan telah berlalu, aku duduk diantara bebatuan cadas yang menjulang tinggi, disekelilingku hanya terlihat bunga Edelweis. Malam yang indah untuk merenung, berada diantara alam semesta yang senantiasa bertasbih. Keindahan langit dihiasi rasi bintang, Purnama enggang memenuhi ruang cahaya sehingga nampak bulan sabit yang memberitahu purnama bukan khayalan.  Dari sini aku bisa memastikan tempat Dewi Puspita merebahkan badannya, tapi dimana engkau sekarang Ahrani? Apakah langit Persia lebih indah dari alam nusantara ini, sehingga engkau harus pergi ?

Ya Allah… Peluklah hati ini di saat kumulai merasa gelisah, dalam penantian penuh kesabaran ini. Terkadang hatiku merasa rindu. Namun kubiarkan kerinduan itu mengembara, melayang dalam dimensi hening. Kujaga aurora mata hati yang datang menyapaku. ( Doa kekasih )

Mulai di tulis 25 Januari 2012 selesai 12 02 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s