Perkembangan dan Aktualisasi Fitrah Beragama Pada Usia Remaja Akhir

Posted: 08/05/2012 in Guidance and Counseling

KASUS MASALAH

Secara fisik, remaja mengalami perubahan jasmani yang cepat, yaitu dengan mulai tumbuhnya ciri – ciri keremajaan yang terkait dengan matangnya organ – organ seks, baik di lihat dari segi primernya ataupun segi sekundernya. Pertumbuhan fisik yang terkait dengan seksual ini mengakibatkan terjadinya kegoncangan emosi, kecemasan, dan kekhawatiran pada diri remaja. Bahkan lebih jauhnya kondisi ini dapat mempengaruhi kesadaran beragamanya.

Masa remaja sebagai segmen dari siklus kehidupan manusia, menurut agama merupakan masa starting point pemberlakuan hukum syar’i (wajib, sunnah, haram, makruh, dan mubah) bagi seorang insan yang sudah baligh (mukallaf). Oleh karena itu, remaja sudah seharusnya melaksanakan nlai – nilai ajaran agama dalam kehidupannya. Pemikiran ini didasarkan pada sabda Rasulullah SAW., “Rufi’ al qalam ‘an tsaalatsin, ‘anishshabiyyi hattaa yahtalima, wa’aninnaa’imi hattaa yaiqidla, wa’anil majnuuni hattaa ya’qila”. Sebagai mukallaf, remaja dtuntut untuk memiliki keyakinan dan kemampuan mengaktualisasikan (mengamalkan) nilai – nilai agama (aqidah, ibadah, akhlak) dalam kehidupannya sehari – hari, baik di lingkungan keluarga, sekolah/kampus, dan masyarakat. Kemampuan mengaktualisasikan nilai – nilai agamadi atas ialah kekonsistenan remaja di dalam mengamalkannya.

Bertitik tolak dari penjelasan di atas, maka penulis mencoba melakukan penelitian dengan judul “Perkembangan dan Aktualisasi Fitrah Beragama Pada Usia Remaja Akhir” terhadap salah satu mahasiswa (Tiwi-nama samaran, 19 tahun) Universitas Islam Negeri, Fakultas Dakwah dan Komunikasi, tepatnya beliau duduk di semester IV Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam. Yang mempuyai permasalahan kurangnya mengaktualisasikan pengetahuan dan pemahaman agama yang telah di dapat, sehingga sangat berpengaruh pula terhadap prilaku beragamanya. Apalagi di usianya sekarang ini ia dibenturkan dengan permasalahan yang sangat sulit. Ini semua disebabkan karena pengaruh yang terjadi pada diri sendiri dan lingkungan sekitar.

LANDASAN TEORITIS

Perkembangan dan Aktualisasi Fitrah Beragama Pada Remaja Akhir

Remaja adalah individu yang membentuk diri, baik laki – laki ataupun perempuan sebagai akibat dari adanya interaksi yang berkelanjutan antara pertumbuhan dan perubahan organism biologis disatu pihak denga fisik, psikologis dan lingkungan sosial di pihak lain.

Secara psikologis, pada masa remaja akhir, emosi remaja sudah mulai stabil dan pemikirannya mulai matang. Dalam kehidupan beragama, remaja sudah melibatkan diri ke dalam kegiatan – kegiatan keagamaan. Remaja sudah dapat membedakan agama sebagai ajaran dengan manusia sebagai penganutnya (ada yang taat dan ada yang tidak taat). Kemampuan ini memungkinkan remaja untuk tidak terpengaruh oleh orang – orang yang mengaku beragama, namun tidak  melaksanakan ajaran agama, atau perilakunya bertentangan dengan nilai agama. Remaja dapat menilai bahwa bukan ajaran agamanya yang salah, tetapi orang – nyalah yang salah.

Remaja sudah seharusnya memiliki keyakinan dan kemampuan mengaktualisasikan (mengamalkan) nilai – nilai agama (aqidah, ibadah, dan akhlak) dalam kehidupannya sehari – hari, baik lingkungan keluarga, sekolah/kampus, dan masyarakat. Nilai – nilai agama yang seharunya diaktualisasikan itu dapat disimak dalam tabel di bawah ini:

Nilai – nilai Agama

Profile Sikap dan Perlikau Remaja

Aqidah (keyakinan)

  1. Meyakini Allah sebagai Pencipta (Khaliq), yang kepada-Nya semua manusia harus beribadah.
  2. Meyakini bahwa Allah Maha Melihat terhadap semua perbuatan manusia.
  3. Meyakini bahwa Allah melalui Malaikat Jibril telah menurunkan agama kepada Nabi Muhammad SAW., sebagai pedoman hidup bagi ummat manusia di dunia.
  4. Meyakini bahwa Allah mengasihi orang –  orang yang taat dan patuh kepada-Nya, dan membenci orang – orang yang mendurhakai-Nya.
  5. Meyakini alam akhirat sebagai tempat pembalasan atau pengadilan agung bagi setiap orang dalam mempertanggungjawabkan amalnya di dunia.

Ibadah dan Akhlak

  1. Mengamalkan ibadah ritual (mahdlah).
  2. Membaca al-Qur’an dan belajar memahami isinya.
  3. Bersikap hormat kepada kedua orang tua.
  4. Menjalin silaturahmi dengan saudara dan orang lain.
  5. Mengendalikan diri (hawa nafsu) dari perbuatan yang diharamkan Allah.
  6. Bersyukur pada saat mendapat nikmat atau anugerah dari Allah (minimal dengan membaca Hamdallah.
  7. Bersabar pada saat mendapat musibah (dengan membaca Innaa lillaahi wainnaa ilaihi raaji’uun), sehingga terhindar dari suasana stress atau prustasi (kekecewaan medalam karena tidak tercapai apa yang diinginkannya).
  8. Berperilaku jujur dan amanah.
  9. Memiliki ghirah (etos) belajar yang tinggi.
  10. Memelihara kebersihan dan kesehatan diri dan lingkungannya.
  11. Bersikap optimis dalam menghadapi masa depan, dengan selalu berikhtiar dan berdo’a kepada Allah.

Tabel 1

Kemampuan remaja untuk mengaktualisasikan nilai – nilai agama di atas, sangatlah heterogen (beragam). Diantaranya: (1) remaja yang mampu mengamalkannya secara konsisten, (2) remaja yang mengamalkannya secara insidental, (3) remaja yang tidak mengamalkan ibadah mahdlah, tetapi dapat berinteraksi social dengan orang lain secara baik, dan (4) remaja yang melecehkan perintah dan larangan Allah Swt.

ANALISIS

Tiwi (nama samaran) berusia 19 tahun, yang lahir di kota hujan Bogor, 11 Maret 1992, alumni salah satu pesantren modern di daerah Bogor, merupakan buah cinta kedua dari hasil pernikahan kedua orang tuanya. Ayahanda-nya berprofesi sebagai karyawan swasta di salah satu perusahaan, dan Ibunda-nya berprofesi sebagai Guru sekaligus pemuka agama.

Sejak kecil Tiwi memperoleh pendidikan formal dan non-formal yang sangat memadai, sehingga dapat menunjang perkembangannya. Ini semua di dukung oleh latar belakang orang tuanya. Dengan pengetahuan umum dan pengetahuan agama yang di tanamkan oleh kedua orang tuanya sejak kecil, mendidik Tiwi untuk lebih tanggung jawab terhadap segala kewajibannya.

Berkenaan dengan kesadaran beragama khususnya dalam menjalankan ibadah, ia menjelaskan bahwa dari kecil sudah menjalankan kewajiban tersebut, tetapi dilatarbelakangi oleh rasa takutnya kepada orang tua. Namun, ketika menginjak masa – masa Aliyah, ia mulai menyadari substansi dari kewajiban menjalankan ibadah. Setelah lulus dari Aliyah, ia melanjutkan pendidikannya ke salah satu universitas di Bandung, dan ia di kenal sebagai aktivis yang tinggal di pesantren X.

Ketika penulis melontarkan pertanyaan “Anda, sebagai umat Muslim kewajiban apa yang harus Anda laksanakan?” Ia menjawab: Shalat yang sangat wajib ditunaikan. Karena dapat memberikan rasa ketentraman hati, nyaman, dan lain sebagainya. Namun pada kenyataannya ia masih bolong – bolong dalam menunaikan kewajibannya karena pengaruh eksternal dan internal. Pengaruh internal, di antaranya; (1) lingkungan yang kotor, yang tidak memungkinkan untuk shalat dan mengaji. dan pengaruh internal, di antaranya; (1) kondisi fisik yang kurang baik, (2) managing time (3) melakukan suatu kesalahan yang menurutnya tidak pantas dilakukan yang akhirnya ia malu untuk melaksanakan shalat. Ia menyadari bahwa apa yang dilakukannya itu salah dan merasa mempunyai hutang, dan ia pun menyadari bahwa Sang Khaliq selalu mengawasinya. Namun, di dalam semangat beragama ia termasuk tipe yang ekstrovert (terbuka) lebih menyukai kegiatan – kegiatan agama secara sosial.

Dengan bejubelnya kegiatan sebagai aktivis sejati, banyak sekali waktu yang tersita sehingga waktu melaksanakan shalat pun tidak tepat waktu. Apalagi di tambah dengan permasalahan yang menurutnya dalam usianya sekarang ini belum sepantasnya menanggung permasalahan yang sangat berat. Sehingga  aspek mental dan perilaku beragama pun kurang di aplikasikan terutama dalam hal kesabaran, keoptimisan menghadapi masa depan, dan ghirah belajar yang tinggi. Sehingga mengakibatkan suatu kekecewaan yang sangat mendalam karena belum bisa menyelesaikan masalahnya, semangat kuliah terganggu, malah ada statement darinya yang terlontar bahwa, “sekarang – sekarang ini saya lebih tidak konsisten dan gimana nanti…” dari pernyataan tersebut terlintas rasa ketidakoptimisan dalam menghadapi permasalahan. Bahkan permasalahan ini mengganggu pikiran dan hatinya yang mengakibatkan aktivitas mengajinya terhambat.

SARAN DAN REKOMENDASI

  1. Permasalahan yang terjadi pada Tiwi ini terletak pada semua aspek pikiran (kognisi), emosi (afeksi), dan motivasi yang berakibat pada perilaku beragamanya.
  2. Asumsi – asumsi salah yang dibuatnya membuatnya merasa tidak percaya diri dalam menyelesaikan masalah, sehingga menimbulkan rasa ketakutan dalam dirinya. Namun Tiwi ini tidak pernah memperlihatkan masalahnya karena mampu menyembunyikan keadaan dengan ceria, narsis, dan sebagainya.
  3. Hal yang sangat dibutuhkan oleh Tiwi saat ini hanyalah motivasi yang rill baik moral ataupun moril.
  4. Dengan pengetahuan dan pemahaman agama yang lebih, gelar aktivis kampus yang mondok di pesantren, Tiwi harus lebih baik lagi dalam managing time supaya kegiatan beragamanya lebih disiplin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s