Penyebab dan Akibat Seks Bebas Terhadap Perilaku Remaja

Posted: 08/05/2012 in Guidance and Counseling

BAB I

PENDAHULUAN

1.1         Latar belakang

Secara psikologis, masa remaja adalah usia dimana individu berintegrasi dengan masyarakat dewasa, yaitu usia dimana anak tidak lagi merasa dibawah tingkat orang – orang yang lebih tua melainkan berada dalam tingkatan yang sama, terutama dalam masalah hak. Integrasi dalam masyarakat dewasa mempunyai banyak aspek efektif, kurang lebih berhubungan dengan masa puber. Seperti, perubahan intelektual yang mencolok. Transformasi intelektual yang khas dari cara berpikir remaja ini, dapat memungkinkan seorang remaja untuk mencapai integrasi dalam hubungan sosial orang dewasa, yang pada kenyataannya hal tersebut merupakan ciri khas yang umum dari periode perkembangan ini.[1]

Kita telah ketahui bahwa kebebasan bergaul remaja sangatlah diperlukan agar mereka tidak “kuper” dan “jomblo” yang biasanya jadi anak mama. “Banyak teman maka banyak pengetahuan”. Namun tidak semua teman kita sejalan dengan apa yang kita inginkan. Mungkin mereka suka hura-hura, suka dengan yang berbau pornografi, dan tentu saja ada yang bersikap terpuji. Benar agar kita tidak terjerumus ke pergaulan bebas yang menyesatkan.

Masa remaja merupakan suatu masa yang menjadi bagian dari kehidupan manusia yang di dalamnya penuh dengan dinamika. Dinamika kehidupan remaja ini akan sangat berpengaruh terhadap pembentukan diri remaja itu sendiri. Masa remaja dapat dicirikan dengan banyaknya rasa ingin tahu pada diri seseorang dalam berbagai hal, tidak terkecuali bidang seks. Seiring dengan bertambahnya usia seseorang, organ reproduksipun mengalami perkembangan dan pada akhirnya akan mengalami kematangan. Kematangan organ reproduksi dan perkembangan psikologis remaja yang mulai menyukai lawan jenisnya serta arus media informasi baik elektronik maupun non elektronik akan sangat berpengaruh terhadap perilaku seksual individu remaja tersebut.

Dan hal tersebut di atas terjadi kepada siswa SMK salah satu di kota Bandung yang bernama Izal (nama disamarkan) berumur 16 tahun. Yang awalnya hanya sekedar coba – coba, hingga akhirnya menjadi hypersex. Ini semua tidak lepas dari penyebab mengapa dia melakukan hal tersebut baik faktor dari diri sendiri, teman, ataupun keluarga. Permasalahan yang terjadi pada klien akan kam kupas dalam laporan penelitian yang telah kami buat dengan judul “Penyebab dan Akibat Seks Bebas Terhadap Perilaku Remaja.”

1.2         Rumusan masalah

Berdasarkan uraian di atas, dapat di ambil rumusan masalah di antaranya sebagai berikut:

  1. Pola asuh yang seperti apa yang diberikan oleh orang tua?
  2. Pendidikan apa saja yang didapat oleh klien dilingkungan keluarga?
  3. Bagaimana hubungan klien dengan keluarga, sekolah, dan masyarakat?
  4. Apakah yang menjadi latar belakang klien melakukan hubungan seks?
  5. Bagaimana sikap keluarga terhadap keadaan klien saat ini, begitupun sikap dia terhadap keluarga?

1.3         Metode

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian yang bersifat kualitatif (deskripsi kualitatif). Metode ini terbagi ke dalam tiga bagian, yaitu:

  1. Survey

Survey yang kami lakukan langsung kepada klien. Kebetulan salah satu orang dari kelompok kami kenal dengan klien.

  1. Eksplorasi data

Eksplorasi data dilakukan dengan menggali semua yang kami perlukan untuk hasil penelitian tentang “Penyebab dan Akibat Seks Bebas Terhadap Perilaku Remaja”.

 

  1. Teknik Pengumpulan Data

Untuk menghasilkan data – data yang akurat dan bermutu, maka kami melakukan beberapa teknik pengumpulan data – data diantaranya:

  • Studi Pustaka

Teknik ini kami lakukan sebagai penunjang data yang akan kami sesuaikan dengan data dari narasumber. Berbagai sumber – sumber data yang berkenaan dengan seks bebas, baik dari buku ataupun dari media seperti internet.

  • Teknik Membuat Pertanyaan

Teknik ini bertujuan untuk mempermudah kami dalam hal mendapatkan informasi berupa data dari klien secara sistematis. Adapun pertanyaan dan jawaban dari klien telah kami lampirkan.

  • Teknik Wawancara

Kegiatan wawancara dilakukan pada tanggal 10 April 2011. Selain face to face secara langsung, kami pun memperoleh data dari klien dengan melakukan via sms dan via telepon.

BAB II

LANDASAN TEORITIS

 

2.1. Pengertian Sex

Sexualitas adalah perilaku keseluruhan seseorang yang menunjukkan ia laki-laki atau wanita. Perilaku sexual yang normal adalah yang dapat menyesuaikan diri, bukan saja dengan tuntutan masyarakat, tetapi juga dengan kebutuhan diri sendiri (dan pasangannya bila sudah menikah) dalam hal mencapai kebahagiaan dan pertumbuhan, juga dapat meningkatkan kemampuan mengembangkan kepribadiannya menjadi lebih baik. Sexualitas dalam arti luas adalah semua aspek badaniah, psikologis, dan sosiobudaya yang berhubungan langsung dengan sex dan hubungan sex manusia. Sexologi adalah ilmu yang mempelajari segala aspek ini. Maka, sex juga bio-psiko-sosio-kultural-spritual, karena itu pendidikan terhadap sex harus holistic pula. Bila dititkberatkan hanya pada salah satu aspek saja, maka akan terjadi gangguan keseimbangan dalam hal ini pada individu atau padamasyarakat dalam jangka pendek atau jangka panjang.

            Untuk mengerti sexualitas manusia, baik yang normal maupun abnormal, perlu dimilki latar belakang pengetahuan bukan saja psikiatri dan ilmu perilaku, tetapi juga anatomi dan daal sexual serta kebudayaan dan agama.

2.2.Teori Psikosexual

Menurut teori libido Freud, insting sexual dalam perkembangan dari masa kanak-kanak sampai dewasa melalui beberapa fase: oral, anal, falik dan genital. Tiap fase didominasi oleh sebuah organ somatic. Bila pada suatu fase tertentu tuntutan tidak terpenuhi secara wajar, maka terjadilah fixasi atau pemberhentian pada fase itu. Fixasi pada fase oral berarti bahwa selanjutnya sampai dewasa terdapat tuntutan-tuntutan akan pemuasan oral yang tidak cocok dengan umur.

Teori interpersonal memandang gangguan sexual sebagai manifestasi kekacauan hubungan antarmanusia yang dinyatakan dalam bidang sexual. Teori kebudayaan menganggap bahwa kepercayaan, adat-istiadat, dan norma-norma yang khas bagi suatu masyarakat tercermin dalam psikologi dan psikopatologi seseorang, juga dalam bidang sexual. Teori adaptasi mengatakan bahwa gangguan sexual adalah akibat ketakutan terhadap hubungan heterosexual, bahwa ketakutan ini timbul karena pengalaman hidup yang jelek. Perilaku sexual yang patologis merupakan adaptasi dari ketakutan ini.

2.3.Dorongan Sexual

Dorongan sex, seperti dorongan-dorongan lain pada manusia, merupakan kejadian yang normal dan netral. Tergantung pada manusia dorongan itu akan disalurkan dengan bagaimana. Dorongan sex menimbulkan rasa ingin tahu pada anak yang sedang tumbuh (menjadi lebih besar) dan yang sedang berkembang (memperoleh cirri-ciri baru). Bila rasa ingin tahu ini tidak terpenuhi secara baik, maka anak akan memperolehnya dari sumber-sumber lain yang diragukan efek edukatifnya. Sumber-sumber itu senantiasa siap member “penerangan” yamng sering tidak akurat, seperti majalah, komik, film dan lain-lain. Karena itu anak-anak perlu diberi pendidikan sex.

            Tujuan pendidikan sex adalah agar anak mengembangkan perilaku sexual yang normal dengan terjadinya perkembangan psikosexual yang sehat dan sex itu ditempatkan secara wajar dalam kehidupan individu dengan keteguhan hati dan penalaran (bukan dengan emosi). Dengan demikian, maka pendidilkan adalah lebih daripada penerangan sex, karena dalam pendidikan termasuk juga apa yang dilihat, didengar, dan dirasakan sehari-hari dari ucapan dan sikap orang-orang sebagian besar terjadi di luar kelas, terutama di rumah.

2.4.Pengertian Dan Faktor-Faktor Seks Bebas

Seks bebas merupakan tingkah laku yang didorong oleh hasrat sexual yang ditujukan dalam bentuk tingkah laku. Faktor-faktor yang menyebabkan seks bebas karena danya pertentangan dari lawan jenis, adanya tkanan dari keluarga dan teman. Dari tahun ke tahun data remaja yang melakukan hubungan seks bebas semakin meningkat, dari 5% pada tahun 1980-an menjadi 20% di tahun 200 dan meningkat drastis pada tahun 2010 menjadi 75%. Hal ini terbukti dalam penelitian dari KOMNAS Perlindungan anak ataupun BKKBN, mengenai perilaku remaja yang melakukan hubungan seks pra nikah. Ironisnya, hal ini bukan hanya menimpa wilayah desa namun juga sudah merambah ke kota-kota besar seperti Medan, Bandung, Jakarta, Surabaya, Dan Yogyakarta.

            Hasil senada juga ditunjukkan oleh riset yang dilakukan ileh YAYASAN Kita dan Buah Hati (YKB) selama tahun 2010. Pada awalnya riset YKB lebih kea rah kesiapan anak menghadapi masa pubertasnya. Tetaoi hal mengjutkan terjadi ketika YKB menemukan bahwa anak-anak kelas 4-5 SD justru memberikan informasi mengenai sejauh mana mereka telah mengetahui tentang pornografi, tentu saja hal ini sangat mngejutkan. Kecenderungan perilaku seks bebas dikalangan usia 13 hingga 18 tahun ini tentu saja membawa dampak tidak hanya pada rentannya kesehatan alat reproduksi, selain meningkatnya kasus penularan HIV/AIDS, tetapi juga tingginya kasus kehamilan di luar nikah yang memicu permasalahan lain seperti praktek aborsi illegal. Hal ini bagaikan efek domino yang dipicu dari habitat awal dimana seharusnya anak dan remaja ini tumbuh dan berkembang denga sehat jasmani maupun rohani.

Ada suatu pesan yang menarik dan membuat kita terhenyak yaitu : “Seks bebas adalah bencana nasional yang menimpa generasi muda dan mengancam ketahanan Negara, hal ini bukan hanya menjadi suatu fakta yang hanya didengar oleh telinga saja, tapi hal ini harus di dengar oleh hati. Hal ini sangat memilukan namun masih bisa ditanggulangi” (Elly Kasim, Psikolog dari Yayasan Kita dan Buah hati dalam acara Kick Andy tanggal 23 Januari 2011)

2.5.Pengaruh Negatif Penyimpangan Sex Terhadap Pelakunya

Penyimpangan sex selain mempunyai hukum haram juga mempunyai pengaruh yang negatif pada pelakunya, diantaranya:

  1. Pengaruh Terhadap Jiwa adalah goncangan batin yang ada pada diri seorang yang melakukan penympangan sex, bila ia merasakan kelainan-kelainan insting sexnya.
  2. Pengaruh Terhadap daya fikir atau kerja otak, sehingga tidak dapat berfikir secara abstrak, minat terhadap sesuatu amat kurang sehingga membuat lemahnya otak.
  3. Pengaruh Terhadap Mental yakni terjadinya sesuatu syndrome mental disebut “Neurasthenia” (penyakit lemah syahwat). Juga depresi mental, akibat suka menyendiri serta mudah tersinggung, sehingga tidak dapat merasakan bahagianya hidup.

Pengaruh Terhadap Akhlaq yaitu apabila seseorang melakukan penyimpangan sex jelas telah rusak akhlaqnya, sebab ia melanggar sesuatu yang diharamkan agamanya. Dan kerusakan akhlaq dan bejadnya moral agama merupakan suatu penyakit jiwa yang berbahaya. Seseorang yang keranjingan penyimpangan sex homosex misalnya sudah pasti gelap mata, sehingga tidak dapat membedakan mana yang haq dan mana yang bathil.

2.6. Dampak seks bebas bagi kesehatan

  • Hamil di luar nikah
  • Aborsi
  • Penyakit psikologis
  • Penyakit menular seksual diantaranya HIV/AIDS, gonorea, jengger ayam, virus herpes, sifilis, HPV (human papiloma virus)


BAB III

PEMAPARAN HASIL PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan kepada seorang siswa SMK salah satu di kota Bandung yang berumur 16 tahun dan bernama Izal (nama disamarkan), dia duduk di kelas XI. Dia adalah seseorang yang sering melakukan seks bebas dengan pacarnya, menyalurkan hasratnya dengan melakukan penyimpangan seks (sex abuse) jenis Masturbasi, dan sekarang telah menjadi hypersex.

pertama kali dia melakukan hubungan seks yaitu dengan pacar ketiganya yang berinisial “K”. dan dia hanya melakukan satu kali dengan tujuan coba – coba saja. Sekarang dia berpacaran dengan Pipit (nama disamarkan) wanita berjilbab, pacar ke delapan dan telah melakukan hubungan seks sebanyak lima kali dalam jangka waktu baru tiga bulan berpacaran. Sebenarnya, ini berawal dari kecemburuannya terhadap teman – teman sebayanya yang telah duluan melakukan hubungan seks dengan teman wanitanya. Dari sinilah Izal pertama kali melakukan hubungan seks.

Di sekolah Izal mempunyai teman dekat sebanyak lima orang. Teman dekat itulah yang kami simpulkan memberikan pengaruh negatif terhadap Izal. Izal tidak terlalu diperhitungkan dan tergolong anak berprestasi di sekolahnya. Namun dia ahli hanya dalam bidang praktisnya saja. Di sekolah permasalahan Izal memang tidak terlalu besar dan bertentangan dengan moral. Permasalahan dia hanya di penugasan mata pelajaran dan seringnya kesiangan masuk sekolah.

Ketika kita menanyakan kondisi lingkungan masyarakat di sekitar rumahnya kepada Izal, dia tidak tahu apa – apa. Dia hanya kenal beberapa orang di sekitar rumahnya dan itupun teman sebayanya waktu SMP. Karena waktunya dia habiskan di luar dengan teman – teman dekatnya. Trek – trekkan, nonton konser musik aliran keras, clubbing, dan nongkrong di sekitaran daerah Dago. Hanya minggu siang dan malam hari sekolah dia ada di rumah. Dan itupun hanya berdiam diri di kamar menonton tv atau main Play Station.

“Pertama kali melakukan hubungan seks dengan Pipit memang saya yang meminta terlebih dahulu. Awalnya dia menolak tapi akhirnya nurut juga. Kedua kalinya kami melakukan hubungan seks malah Pipit yang meminta, dan setiap kali kami melakukan hal tersebut itu dirumah pacar saya, setiap ke rumahnya pasti kami melakukan hubungan seks. Dan kami tidak takut terjadi hal yang tidak diinginkan (hamil), karena kami selalu memakai alat pengaman yang berkualitas. Jika saya ingin melakukannya lagi dan pacar saya tidak ada, saya selalu menyalurkannya dengan melakukan penyimpangan seks (masturbasi)” tutur Izal.

Selain pernah melakukan hubungan seks, Izal juga pernah mengkonsumsi Narkoba jenis Sabu – sabu dan Ganja, tapi hal itu hanya berlangsung satu kali karena efek sakit di kepala yang langsung dia rasakan. Menurutnya, lebih enakan melakukan seks daripada mengkonsumsi Narkoba, tutur Izal.

Izal menyadari bahwa apa yang dilakukannya itu salah, dan dia merasa kotor dengan keadaannya, namun ketika hal itu terjadi hanya kenikmatan yang dia rasakan tanpa menghiraukan salah atau tidaknya akan perbuatan yang dia lakukan. Dan ketika kami menanyakan hubungannya dengan Sang Pencipta, dia menjawab, “Hubungan saya memang tidak baik, saya jarang shalat. Tapi Alhamdulillah pacar saya rajin shalat, berjilbab lagi.”

Ketika kami menanyakan, apakah kamu pernah mempunyai cinta pertama? Pesan pasialnya memperlihatkan kekesalan dan kemarahan terhadap suatu objek. Dan kita menyimpulkan bahwa dia pernah disakiti oleh seorang wanita (pacarnya) yang berinisial “S”, hingga membekas sampai sekarang. Sempat dia ditawarkan oleh teman dekatnya untuk menjalin hubungan dengan seorang wanita dan dia bebas melakukan hubungan apapun, tapi Izal menolaknya. Ini membuktikan bahwa Izal butuh dihargai (Teori Hierarki Kebutuhan, Abraham H. Maslaw).

Begitupun dengan kehidupannya di keluarga. dia anak tunggal dan hidup dengan sorang Ibu  yang sekaligus menjadi tulang punggung keluarga. Orang tuanya bercerai sejak Izal berusia 1 ½ tahun (Pernikahan terjadi karena perjodohan). Sedikitpun dia tidak pernah merasakan kasih sayang seorang figur Ayah. Meskipun kondisinya seperti ini tapi tidak membuat Izal dan Ibunya dekat, melainkan komunikasi di antara mereka sangatlah kurang. Disini, kita melihat adanya Oedipus Kompleks dimana terjadi kegagalan citra seorang Ibu terhadap anaknya.

BAB IV

PENUTUP

4.1     Solusi

Dalam penelitian yang kami lakukan, masalah yang dihadapi oleh Izal sehingga dia terjerumus dan menjadi hypersex karena adanya faktor dari keluarga (broken home), faktor dari lingkungannya yaitu pergaulannya yang bebas dan lingkungan yang mendukungnya untuk melakukan hal tersebut, serta kurangnya pengetahuan tentang seks.

Dan solusi yang kami berikan ialah kebutuhan Sex education. Sex education pada remaja bertujuan agar dapat mengerti identitas dirinya dan terlindung dari masalah seksual yang dapat berakibat buruk bagi remaja. Sex education untuk remaja bertujuan melindungi remaja dari berbagai akibat buruk karena persepsi dan perilaku seksual yang keliru. Pendidikan seksual selain menerangkan tentang aspek – aspek anatomis dan biologis juga menerangkan tentang aspek – aspek psikologis dan moral. Pendidikan seksual yang benar harus memasukkan unsur – unsur hak asasi manusia. Juga nilai – nilai kultur dan agama diikutsertakan sehingga akan merupakan pendidikan akhlak dan moral juga. Remaja harus mempelajari pola – pola perilaku seksual yang diakui oleh lingkungan serta nilai – nilai sosial sebagai pegangan dalam memilih teman hidup. Remaja juga harus belajar mengekspresikan CINTA pada lawan jenisnya, dan belajar memainkan peran sesuai jenis kelamin, sebagaimana yang diakui oleh lingkungan. Tugas – tugas tersebut di antaranya:

  1. Memperoleh pengetahuan mengenai seks dan juga peran sebagai pria atau wanita dewasa yang diakui oleh lingkungan masyarakat sekitarnya.
  2. Mengembangkan sikap terhadap seks.
  3. Belajar bertingkah laku dalam hubungan heteroseksual menurut cara yang diakui oleh lingkungan masyarakat.
  4. Menetapkan nilai – nilai dalam memilih pasangan hidup.
  5. Belajar untuk mengekspresikan cinta.

4.2     Rekomendasi

Masalah ini perlu mendapat perhatian dari berbagai pihak mengingat remaja merupakan calon penerus generasi bangsa. Ditangan remaja lah masa depan bangsa ini digantungkan. Terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan dalam upaya untuk mencegah semakin meningkatnya masalah yang terjadi pada remaja, yaitu antara lain:

  1. Peran orangtua
  • Menanamkan pola asuh yang baik pada anak sejak prenatal dan balita.
  • Membekali anak dengan dasar moral dan agama.
  •  Mengerti komunikasi yang baik dan efektif antara orangtua – anak.
  • Menjalin kerjasama yang baik dengan guru.
  • Menjadi tokoh panutan bagi anak baik dalam perilaku maupun dalam hal menjaga lingkungan yang sehat.
  • Menerapkan disiplin yang konsisten pada anak.
  1. Peran guru
  • Bersahabat dengan siswa.
  • Menciptakan kondisi sekolah yang nyaman.
  • Meningkatkan peran dan pemberdayaan guru BP.
  • Meningkatkan disiplin sekolah dan sangsi yang tegas.
  • Meningkatkan kerjasama dengan orangtua, sesama guru dan sekolah lain.
  • Meningkatkan keamanan terpadu sekolah bekerjasama dengan Polsek setempat.
  • Mewaspadai adanya provokator.
  • Menciptakan kondisi sekolah yang memungkinkan anak berkembang secara sehat dalam hal fisik, mental, spiritual dan sosial.
  • Penyuluhan seks secara kontinuitas.
  1. Peran pemerintah dan masyarakat
  • Menegakkan hukum, sangsi dan disiplin yang tegas.
  • Memberikan keteladanan.
  • Lokasi sekolah dijauhkan dari pusat perbelanjaan dan pusat hiburan.
  1. Peran Media
  • Sajikan tayangan atau berita sesaui usia.
  • Sampaikan berita dengan kalimat benar dan tepat (tidak provokatif)
  • Adanya rubrik khusus dalam media masa (cetak, elektronik) yang bebas biaya khusus untuk remaja

DAFTAR PUSTAKA

 

Feist, Jess. Theories of Personality. Pustaka Pelajar. Yogyakarta. 2008.

http://himikaung.wordpress.com/dampak-seks-bebas-bagi-kesehatan/ diambil pada tanggal 03 Mei 2011

Haqiqi Alif, Masa Remaja Penuh Sensasi, Lintas Media. Jombang

http://www.zaharuddin.net/index.php?option=com_content&task=view&id=282&Itemid=89

Hurlock, Elizabeth. Psikologi Perkembangan.Erlangga.

Maramis, Willy. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Airlangga University Press. 2009.

 


[1] Elizabeth B. Hurlock, Psikologi Perkembangan, (Jakarta: Erlangga,…), edisi ke-5

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s