Makalah: Konseling Keluarga Sakinah dengan Berbagai Gangguan (Keluarga Single Parent, Keluarga Korban Narkoba, dan Keluarga Korban Perceraian)”

Posted: 08/05/2012 in Guidance and Counseling

BAB I

PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang Masalah

Setiap umat Islam diperintahkan oleh Allah SWT. agar teguh beriman dan bertaqwa dengan tujuan hidupnya mendapat ridha Allah, sehingga memperoleh kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Allah berfirman: “Wahai orang-orang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebanar-benar taqwa; dan janganlah kamu sekali-kali mati, kecuali dalam keadaan beragama Islam (muslimin).”

Kekautan Iman dan Taqwa umat Islam yang tertanam dalam-dalam di dirinya akan memberikan dampak pisitif kepada lingkungan keluarga, masyarakat, bahkan dunia. Keluarga akan menjadi damai dan tentram (sakinah) dimana setiap anggota keluarga (Ayah, Ibu, Anak-anak, dan anggota keluarga) di rumah tersebut taat beribadah kepada Allah, banyak berbuat baik untuk kemajuan keluarga dan menghormati serta cinta kepada orang tua dan sebaliknya. Rumah tangga atau keluarga sakinah dapat diartikan sebagai suatu sistem keluarga yang berlandaskan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah, beramal saleh untuk keluarga-keluarga lain disekitarnya, serta berwasiat atau berkomunikasi dengan cara bimbingan yang haq,kesabaran, dan penuh dengan kasih sayang (QS. Ar-Rum: 21, Al’asr: 3).

Namun di dalam perjalanan sebuah keluarga, sering ada jalan godaan, gangguan, bahkan mungkin juga bencana. Hal ini membuat seisi keluarga merasa susah, sedih, bahkan ada pula yang jadi berantakan.ketenangan yang dicita-citakan oleh semua anggota keluarga menjadi terguncang karena salah seorang anggotanya yaitu buah hatinya tiba-tiba menggunakan obat-obatan terlarang (Narkoba).  Apakah orang tua akan langsung bersikap emosional dengan bertindak gegabah,? Misalnya memerahi, memukuli, bahkan mengusir anak sendiri? Ataukah melakukan pendekatan yang ramah, ikhlas, memahami, empati terhadap perasaan anak itu?

Jika dibeberkan banyak sekali kasus anak dan remaja, serta kasus keluarga lainnya seperti dalam hubungan suami-isteri yang membuat keluarga itu menjadi terganggu bahkan berantakan. Akibatnya pendidikan dan kesehatan anak turut berantakan pula. Namun di pembahsan ini, kami hanya mengambil tiga permasalahan saja, diantaranya: (a) Keluarga Single Parent, (2) Keluarga Korban Narkoba, dan (3) Keluarga Korban Perceraian.

 

B.       Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan di atas, maka dapat dirumuskan permasalahannya sebagai berikut:

“Bagaimana cara melakukan konseling keluarga terhadap keluarga single parent, keluarga korban narkoba, dan keluarga korban perceraian?”

BAB II

PEMBAHASAN 

A.      KELUARGA SINGLE PARENT

Kadang menjadi orangtua tunggal bisa membuat seseorang menjadi sangat sibuk sehingga agak sedikit melupakan kebahagiaan untuk dirinya sendiri. Namun tidak selamanya menjadi orangtua tunggal tidak menyenangkan, ada beberapa hal yang bisa membuat seseorang tetap bahagia menjadi orangtua tunggal. Fokus pembahasan ini pada seorang Ayah yang menjadi orang tua tunggal bagi anak-anaknya.

Adakalanya seorang ayah harus mengasuh dan membesarkan anak-anaknya sendirian, entah karena perceraian atau ditinggal mati istrinya. Jika itu dialami oleh Anda, tak usah ragu atau cemas. Percayalah, Anda pun dapat mendidik si kecil sebaik yang bisa dilakukan seorang ibu. Ada beberapa tips yang dapat dilakukan oleh konselor dalam membantu kliennya (Pakar Psikologi Dr. A. Joseph Burstlen), diantaranya sebagai berikut:

  1. Mengubah cara pandang. Konselor membantu individu tersebut untuk mengubah seluruh gaya hidup dan kebiasaan sebelumnya dalam melakukan segala hal. Khususnya pandangan tradisional terhadap peran Ayah sebagai pria, termasuk mengasuh anak.
  2. Memberikan informasi untuk mempelajari segala ketrampilan baru, menyadap sumber daya yang selama ini tidak ketahui oleh seorang Ayah. Diantaranya, melakukan pekerjaan yang kadang-kadang mungkin menjemukan seperti memasak, membersihkan rumah, mencuci, dan tentunya menjaga si kecil.
  3. Membawa klien pada realitas sebenarnya. Klien diperkenankan untuk tidak terlalu berharap segala sesuatunya akan berjalan mulus. Klien harus siap untuk menghadapi guncangan, kejutan, kekecewaan, bahkan kegagalan.
  4. Menawarkan media kepada klien. Untuk memperluas wawasan klien dengan membaca buku-buku tentang pengasuhan, perawatan dan pendidikan anak. Ini akan sangat membantu klien dalam memberikan rasa aman dalam mengatasi masalah sulit.
  5. Membuka komunikasi dengan pihak lain. Tak ada salahnya bertukar pikiran dengan ayah lain yang menjadi orang tua tunggal.

Orangtua tunggal bisa tetap bahagia menjalani hidup ini dengan tetap menggunakan pendekatan yang positif. Dengan menjadikan hal-hal positif dalam hidup sebagai pemicunya, maka kebahagian tersebut juga bisa didapatkan. Berikut ini beberapa hal yang bisa dilakukan oleh orangtua tunggal agar tetap bisa bahagia, seperti dikutip dari eHow, Jumat (27/03/2012) yaitu:

  1. Fokus pada anak-anak. Jika anak-anak adalah pusat kehidupan Anda dengan sendirinya anak-anak tersebut akan mengetahui dan merespon apapun yang terjadi pada diri orangtuanya. Jika anak melihat orangtua merasa trauma, tidak nyaman atau tidak aman sendirian, anak-anak juga akan bisa merasakan hal yang sama. Jadi cobalah untuk menikmati hidup agar sama-sama bisa merasakan kebahagiaan.
  2. Mengenal diri sendiri. Ini adalah waktu yang tepat untuk mengenal diri sendiri dan merasa nyaman dengan kesendirian. Tinggalkan segala pikiran yang negatif tentang kesendirian dan berlatihlah untuk merasa cukup nyaman dengan diri sendiri saat pergi keluar rumah. Lebih baik berpikir bahwa Anda merasa lebih suka tidak ada hubungan sama sekali dibandingkan dengan berada dalam hubungan yang buruk.
  3. Libatkan anak-anak dalam mencerminkan peran orangtua yang hilang. Dalam hal ini bukan berarti harus menemukan pengganti dari seorang ibu atau ayah, tapi bisa dengan membuat anak dekat dengan paman, bibi atau kakek dan nenek untuk mengisi kekosongan salah satu peran orangtua.
  4. Biarkan anak-anak tahu bahwa dirinya dapat melengkapkan hidup Anda. Jika Anda percaya bahwa Anda bisa tetap bertahan tanpa seorang laki-laki atau perempuan disamping Anda, maka anak-anak pun akan mempercayai itu. Karena anak adalah cerminan dari apa yang dirasakan oleh orangtuanya, jika suatu saat menemukan seseorang maka itu bisa menjadi sebuah bonus bagi Anda dan anak-anak.
  5. Memahami bahwa Anda tidak bisa menjadi segalanya bagi anak-anak. Dengan memahamai hal tersebut akan membuat orangtua tunggal merasa tidak terlalu tertekan, namun bukan berarti anak-anak tidak bisa mendapatkan kasih sayang yang sempurna. Kasih sayang bisa didapatkan dari saudara atau orang-orang yang dekat dengan Anda.

 

B.       KELUARGA KORBAN NARKOBA

1.         Dampak Narkoba Bagi Lingkungan Keluarga

Narkoba sudah jelas berbahaya bagi siapa saja yang menyalahgunakannya. Berbagai efek negatif, baik fisik maupun psikis jelas membuat korban penyalahguna narkoba menderita. Selain itu dampak negatif tersebut juga akan dirasakan oleh keluarga korban penyalahguna itu sendiri.

Dipandang dari berbagai aspek, aspek psikis sangat jelas dirasakan oleh keluarga. Keluarga akan sama menderitanya dengan korban penyalahguna narkoba. Perasaan sedih, malu, kecewa dan perasaan lainnya berkecamuk dan menimbulkan kekacauan dalam keluarga. Anggota keluarga yang menjadi pecandu, pada satu titik akan menujukkan sikap sama dengan pecandu itu sendiri. Mereka mengalami paranoid dan perasaan yang lain sebagainya.

a.        Denial (Penolakan)

Hal yang jelas terasa dalam keluarga adalah adanya sebuah penolakan atau denial karena anaknya, ataupun anggota keluarga lainnya yang terkena narkoba. Muncul pro-kontra dalam keluarga, karena bisa jadi anggota keluarga yang terkena itu sejak kecil tidak menunjukkan perilaku aneh ataupun menyimpang. Namun ketika kenyataan terjadi dalam keluarga, sikap penolakan sebagian besar dialami oleh anggota keluarga lainnya. Dari kasus yang pernah terjadi, ada satu keluarga yang mempunyai beberapa anak. Salah satu anaknya yang dikenal sangat supel, care dan ramah, tiba-tiba tanpa disadari oleh keluarga dia ternyata positif menggunakan drugs. Otomatis ada dua pendapat yang muncul dari anggota keluarga yang lain. Pertama, pasti tidak bisa menerima dan tidak percaya anak tersebut menggunakan narkoba, namun di pihak lain mungkin bisa menerima dan berupaya mencari jalan keluarnya. Tapi pada saat pertama kalinya, tentu rasa penolakan sangat jelas dirasakan oleh semua anggota keluarga.

Semakin lama, masalah narkoba didalam keluarga semakin kompleks. Antara satu keluarga dengan yang lain mulai bersinggungan dan mulai konfliks, karena berkutat dalam masalah adiksi yang terjadi pada anggota keluarganya yang terkena.

 

b.        Konflik

Pengalaman banyak membuktikan, kehancuran keluarga merembet dari hal psikis hingga ke masalah ekonomis. Jika dalam satu keluarga ada tiga orang anak, dan kebetulan anak pertama terkena narkoba, potensi masalah bisa muncul dari kedua anak yang lain.

Mengurusi pecandu dalam keluarga memang tidak mudah dan mau tidak mau, si Ibu tadi pastinya berjuang untuk menyelamatkan anaknya yang terkena tadi, sehingga bisa pulih kembali. Bukan hanya tenaga yang dibutuhkan, namun materi yang cukup. Seberapapun besarnya jumlah materi itu, orang tua yang peduli selalu menginginkan yang terbaik dan sekeras apapun cara yang ditempuh pasti dijalani.

Karena jumlah uang yang dikeluarkan oleh orang tua untuk masa rehabilitasi sangatlah besar, akan timbul kecemburuan dalam rumah tangga. Anak-anak yang lain akan semakin merasakan beban masalah itu terlalu berat dan menyebabkan frustasi. Anak-anak yang lain pada satu titik akan merasa, apa yang dikeluarkan keluarga pada anak yang terkena narkoba itu terlalu berlebihan, ada rasa waswas akan kehilangan semua barang materil dalam rumahnya. Rasa was-was itu mendorong mereka untuk protes dan memicu pertengkaran baru dalam rumah tangga. Masalah keuangan yang cukup pelik menyebabkan keretakan dan pertengkaran yang tidak berujung, karena sulitnya menerima kenyataan tadi.

 

c.         Co-Dependency

Penyakit co-dependency ini terjadi pada keluarga yang terkena narkoba. Dependency itu artinya ketergantungan yang dialami pecandu pada narkoba dan keluarga korban juga menjadi ketergantungan pada si pecandu itu sendiri.

Semua keluarga pecandu rata-rata mengalami masalah ini. Berangkat dari rasa malu, kecewa dan perasaan lainnya menyebabkan sebuah beban dan tekanan tersendiri bagi para orang tua yang anaknya terkena narkoba ataupun sebaliknya. Yang pertama, keluarga pastinya mengalami menjadi paranoid persis yang ditunjukkan oleh si pecandu. Apabila malam-malam mendapatkan telepon, keluarga korban cemas, paranoid dan isinya selalu curiga terus. Dalam benak pikirannya, pasti itu telepon dari bandar atau dari pihak aparat yang mendapati keluarganya menyalahgunakan narkoba. Perasaan itu terus dan terus berkecamuk hingga seluruh anggota juga merasakan penderitaan yang cukup berat.

Keluarga juga sama halnya dengan pecandu yang sering berbohong. Ketika ditanya orang lain tentang keadaan si korban, keluarga menyembunyikan fakta dengan menjawab anak itu sedang mendapatkan perawatan medis, pergi ke luar kota, studi ke luar negeri dan seribu alasan lainnya yang intinya menutupi kenyataan sebenarnya. Sikap ini banyak dilatarbelakangi oleh perasaan keluarga korban yang malu dan khawatir disudutkan oleh orang-orang disekitarnya. Disamping itu, keluarga yang anggota keluarganya terkena narkoba menjadi compromize atau saling menutupi. Contoh kasus, karena rasa kasihan pada anaknya yang kecanduan heroin, orang tua yang tadinya tidak ingin memberikan anaknya uang karena takut dipakai untuk membeli barang tersebut, namun akhirnya dia mengalah dan memilih memberikan uangnya karena tak tega melihat anaknya sakaw. Kasus ini banyak terjadi di lingkungan keluarga.

Rasa sakit dan menderitanya keluarga yang kena narkoba memang buka main. Ada salah seorang ibu yang anaknya kena narkoba mengatakan, ”ketika anak saya kena narkoba, saya sangat sedih, kecewa dan hancur, apabila dibandingkan dengan rasa sakit ditinggal suami, jelas saya lebih sakit dan sedih saat anak ternyata menjadi korban narkoba”.

Inilah kenyataan yang pahit yang terjadi dalam keluarga yang kena narkoba. Artinya tidak mudah bagi keluarga untuk menghadapi trauma yang bukan dalam hitungan hari atau bulan, karena trauma seperti itu bisa saja muncul sewaktu-waktu. Pada dasarnya, keluarga dan pecandu tentunya harus berjuang melawan adiksi ini dalam proses seumur hidup, karena siapapun itu, bisa saja kembali kambuh.

 

2.         Pendekatan Konseling

Untuk membantu secepatnya pemulihan (recovery) klien narkoba, amat diperlukan dukungan keluarga seperti ayah, ibu, saudara, istri, suami, pacar, dan keluarga dekat lainnya. Fasilitator konseling keluarga adalah konselor, sedangkan pesertanya adalah klien, orang tua, saudara, suami/istri, dan sebagainya. Nuansa emosional yang akrab harus mampu diciptakan oleh konselor agar terjadi keterbukaan klien terhadap keluarga, sebaliknya anggota keluarga mempunyai rasa tanggung jawab yang tinggi terhadap pemulihan klien. Dampaknya adalah tumbuh rasa aman, percaya diri, dan rasa tanggung jawab klien terhadap diri dan keluarga.

Untuk mencapai keberhasilan KK maka prosedur yang harus ditempuh adalah sebagai berikut:

  1. Menyiapkan mental klien narkoba untuk menghadapi anggota keluarga. Alasannya karena ada sebagian anggota keluarga yang jengkel, marah, dan bosan dengan kelakuan klien yang mereka anggap amat keterlaluan, merusak diri, mencemarkan nama keluarga, dan biaya keluar jadi besar untuk pemulihan. Mempersiapkan mental klien berarti dia harus berani menerima kritikan-kritikan anggota keluarga dan siap untuk berubah kepada kebaikan sesuai harapan keluarga.
  2. Memberi kesempatan kepada setiap anggota keluarga untuk menyampaikan perasaan terpendam, kritikan-kritikan, dan perasaan-perasaan negatif lainnya terhadap klien. Di samping itu, ada kesempatan untuk memberi saran-saran, pesan, keinginan-keinginan terhadap klien agar dia berubah. Semuanya bertujuan untuk menurunkan stres keluarga sebagai akibat kelakuan klien sebagai anggota keluarga yang dicintai (Horne & Ohlsen, 1982).
  3. Selanjutnya, konselor memberi kesempatan kepada klien untuk menyampaikan isi hatinya berupa kata-kata pengakuan jujur atas kesalahan-kesalahannya, serta penyesalan terhadap masa lalu. Kemudian, klien mengemukakan harapan hidup masa depan dan diberi kesempatan untuk berbuat baik terhadap diri, keluarga, dan masyarakat.
  4. Selanjutnya, konselor mengemukakan kepada keluarga tentang program pemulihan klien secara keseluruhan. Maksudnya supaya keluarga klien menaruh kepercayaan terhadap semua upaya konselor bersama klien. Selanjutnya, keluarga akan mendorong penyembuhan klien dengan tulus dan kasih sayang.
  5. Konselor meminta tanggapan keluarga tentang program tersebut. Di samping itu, diminta juga tanggapan mereka terhadap keadaan klien saat ini. Demikian juga, tanggapan klien terhadap program yang telah disusun konselor, dan juga tanggapan terhadap keluarganya. Tanggapan-tanggapan dari kedua pihak terhadap program yang disusun konselor amat penting supaya semua pihak terutama klien sungguh-sungguh didalam menjalani program pemulihan dirinya.

Selain pendekatan konseling diatas, untuk mengurangi trauma dan perasaan lainnya yang terus berkecamuk, keluarga juga diberikan program yang dikenal dengan Family Programme. Dalam program tersebut ada dua program penting yang terimplementasikan, yaitu Family Therapy dan Family Support Group.

Family Therapy adalah terapi yang dijalani oleh sebuah keluarga yang anaknya terkena narkoba. Keluarga tadi biasanya mendatangkan para ahli di bidang adiksi untuk melakukan konseling ataupun curhat tentang masalah adiksi. Dalam kesempatan ini, keluarga akan mendapatkan banyak bimbingan serta asupan informasi penting tentang bagaimana mereka nantinya bisa mendampingi, menghadapi korban dan mengantisipasi jika kondisi terburuk kembali terjadi. Dari family therapy itulah mereka mendapatkan pengetahuan yang luas.

Family Support Group (FSG), program ini adalah kelompok keluarga korban penyalahguna narkoba untuk saling mendukung antara satu keluarga dengan yang lainnya. FSG sangat penting peranannya dalam proses pemulihan korban penyalahguna narkoba. Adapun yang paling terasa dari kelompok ini tentunya ada rasa kebersamaan dan rasa nyaman dalam berinteraksi dan berkomunikasi. Dalam FSG, keluarga bisa curhat dan mengekpresikan perasaannya tanpa harus ada rasa malu ataupun khawatir akan dihujat, karena dalam satu kelompok itu ada value yang terus dijunjung tinggi adalah saling memberikan dukungan antara satu sama lainnya. Sebuah kondisi yang kontras jika dibandingkan di lingkungan yang umum, hujatan, hinaan atau cibiran sangat mungkin sampai ke mata dan telinga keluarga korban, namun berbeda dengan FSG, karena mereka satu hati dan satu visi.

Dalam perkumpulan itu, silih berganti menceritakan pengalaman serta bertukar pengalaman serta berbagi wawasan tentang dunia adiksi ataupun narkoba. Sehingga ini bisa menjadi salah satu wahana untuk bisa bersama-sama mendampingi korban pecandu menjadi seorang pribadi yang selamanya pulih dan tidak ada potensi untuk kembali ke lembah adiksi.

3.         Upaya Preventif yang dapat dilakukan oleh Keluarga terhadap Bahaya Narkoba

Upaya yang dapat dilakukan agar anggota keluarga yang lain tidak tertular penyakit narkoba, adalah dengan preventif, yaitu menjaga jangan sampai anak terlibat dengan putaw, ganja, dan sebagainya.

Pertama, hindarkan pergaulan dengan kelompok-kelompok, gang, preman, dan orang-orang berkelakuan tidak baik. Carilah teman yang baik akhlaknya, suka shalat, sopan terhadap orang lain.

Kedua, sejak kecil anak-anak diajarkan shalat dan agama, sehingga setelah remaja, mereka mempunyai benteng diri terhadap pengaruh-pengaruh negatif.

Ketiga, harus selalu ada penyuluhan di masyarakat dan sekolah tentang bahaya narkoba. Karena kebanyakan remaja yang terlibat memakai narkoba adalah karena sejak awal tidak mengetahui bahayanya, seperti kerusakan otak dan kematian karena over dosis.

 

C.      KELUARGA KORBAN PERCERAIAN

1.         Perubahan Kondisi Keluarga

Dari masa ke-masa perkembangan zaman di dunia terutama di Indonesia terus berubah dan semakin meningkat. Baik dalam hal teknologi, perubahan ekonomi, status sosial, budaya, perilaku anak remaja, perilaku masyarakat sekitar, dan lain sebagainya. Dalam hal ini, keluarga mendapat tantangan dan tekanan dari luar dan dalam diri, sedangkan kehidupan keluarga haruslah tetap bertahan dan dapat terjaga. Keluarga dapat dikatakan mengalami tekanan dan kecemasan karena hebatnya pengaruh dari luar tadi, begitu juga masalah salah satu anggota keluarga yang ingin berkuasa, persaingan kekayaan dan lain sebagainya. Akibatnya, orang tua sebagai pemimpin keluarga harus berusaha semaksmal mungkin untuk memperoleh uang dan peralatan rumah tangga lainnya.

Perubahan masyarakat diatas akan berdampak pada perubahan kondisi keluarga. jumlah anggota keluarga yang semakin kecil yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak. Sayangnya interaksi antara anggota keluarga mulai renggang. Sang ayah terlalu sibuk sehingga kurang perhatian kepada sang ibu dan juga anaknya. Begitu pula sang ibu sibuk dengan untuk bekerja untuk memperoleh uang. Hal yang demikian akan memberikan dampak negatif terhadap anak remaja yang tinggal di rumah setelah pulang dari sekolahnya hanya seorang diri. Ayah-ibu sibuk dan hidup penuh dengan persaingan, cenderung mendapat gangguan emosional dan bahkan neurosis. Bahkan karena hal semacam ini tidak jarang pula berakibat kepada perceraian.

Interaksi ayah ibu yang tadinya akrab, memberikan kasih sayang yang penuh menjadi bertolak belakang. Karena mereka terlalu sibuk diluar rumah untuk mencari nafkah demi tuntutan ekonomi yang terus meningkat.

Perhatian orang tua kepada anak yang kurang seperti ini menyebabkan hilangnya perhatian dan kasih sayang terhadap anaknya akibatnya anak-anak pula mengalami gangguan emosional atau neurotic. Mereka pula dapat membawa perubahan tingkah laku yang negatif cenderung kepada perilaku menyimpang yang dibawa dari teman-temannya seperti kenakalan-kenakalan remaja pada umumnya, yaitu menghisap ganja, kecanduan narkotika, alkohol, bahkan perkembangan potensi anak yang semakin kurang, dan lain sebagainya.

Pada daerah perkotaan pergaulan masyarakat kota yang sudah merajalela, persaingan gaya hidup yang serba tinggi, tuntutan pendidikan tinggi, dan lain sebagainya. Anak-anak remaja umumnya yang kurang mendapat perhatian penuh dari orang tuanya cenderung memiliki sifat cuek atau masa bodoterhadap lingkungan. Mereka mulai membandel, kurang sopan, merokok, sehingga perilaku itu dibawa mereka ke dalam kehidupan sekolah seperti kurang disiplin dalam beajar, suka membolos, bahkan menentang guru. Hal ini merupakan faktor penting adanya kegiatan konseling keluarga di sekolah dan masyarakat.

2.         Anak Sebagai Korban dari Perceraian Orang tua

Memang ada pandangan psikologi mutakhir yang menyatakan bahwa, seseorang dapat hidup lebih bahagia setelah bercerai. Perceraian bukan akhir dari kehidupan suami-istri. Namun, orang tua yang bercerai harus tetap memikirkan bagaimana membantu anak mengatasi penderitaan akibat ayah ibunya berpisah.

Dari waktu ke waktu, kasus perceraian tampaknya terus meningkat. Maraknya tayangan infotainment di televisi yang menyiarkan parade artis dan public figure yang mengakhiri perkawinan mereka melalui meja pengadilan, seakan mengesahkan bahwa perceraian merupakan hal yang tren.

Sepertinya kesakralan dan makna perkawinan sudah tidak lagi berarti.
Pasangan yang akan bercerai sibuk mencari pembenaran akan keputusan mereka untuk berpisah. Mereka tidak lagi mempertimbangkan bahwa akan ada pihak yang sangat menderita dengan keputusan tersebut, yaitu anak-anak mereka. Namun, fenomena perceraian marak terjadi bukan hanya di kalangan artis atau public figure saja. Di dalam keluarga sederhana, bahkan di dalam
lingkungan pendidik, lingkungan yang tampak religius, perceraian juga banyak terjadi.

Akibat Emosional dalam suatu perceraian, orang-tua mencurahkan seluruh waktu dan uangnya untuk saling bertikai mengenai harta, tunjangan uang yang akan diberikan suami setelah bercerai, hak pemeliharaan anak, dan hak-hak lainnya. Sementara itu, mereka hanya mencurahkan sedikit waktu atau usaha untuk mengurangi akibat emosional yang menimpa anak-anaknya. Pengacara yang terlibat dalam perceraian tersebut, sesuai tugasnya memang hanya memfokuskan diri pada masalah hukum saja. Biasanya mereka
kurang memperhatikan akibat emosional pada diri anak-anak yang jadi korban dalam peristiwa perceraian tersebut. Mereka umumnya kurang ikut memikirkan bagaimana memberikan konseling kepada kliennya, dalam hal ini orang-tua yang akan bercerai, tentang cara-cara terbaik dalam membantu anak-anak mengatasi dan menyesuaikan diri dengan situasi yang ada. Walaupun orang-tua telah berusaha menyelesaikan perceraian dengan hati-hati dan damai, tidak ada cara yang dapat mereka lakukan untuk
menghindari akibat negatif terhadap anak-anak. Oleh karena itu, menjadi penting bagi orangtua yang dalam proses perceraian untuk sebaik mungkin mengambil usaha-usaha khusus untuk meminimalkan penderitaan dan kesusahan anak-anaknya. Ini membutuhkan perhatian dan usaha aktif dari pihak orangtua.

Frederic Luskin, Ph.D., mengemukakan sembilan langkah yang harus dibangun pada diri anak agar dapat mengembangkan pemaafan terhadap orang tua, yaitu

  1. Mengetahui secara pasti perasaannya tentang apa yang terjadi (dalam hal ini perceraian orang tua) dan dapat mengungkapkan bahwa situasi tersebut tidak mengenakkan, bahkan menyakitkan. Anak juga harus bisa menceritakan pengalamannya tersebut kepada orang yang dapat dipercaya.
  2. Membuat komitmen pada diri sendiri untuk mengerjakan apa yang harus dikerjakan agar dapat merasa semakin baik. Pemaafan sebenarnya lebih mengarah pada diri anak sendiri, bukan pada orang lain.
  3. Pemaafan tidak selalu harus berarti rekonsiliasi dengan pihak lain yang menyakiti anak Tujuan akhir yang ingin dicapai adalah menemukan rasa damai.
  4. Dapatkan perspektif yang benar tentang apa yang terjadi. Berikan kesadaran pada anak bahwa disstres utama yang dirasakan berasal dari rasa sakit, pemikiran dan gangguan fisik yang diderita sekarang, bukan sesuatu yang menyerang atau menyakitinya dua menit atau sepuluh tahun yang lalu. Pemaafan dikembangkan untuk membantu rasa sakit tersebut.
  5. Pada saat anak merasakan gangguan, lakukan teknik pengelolaan stress sederhana , untuk menenangkan respon flight or fight dari tubuh anak.
  6. Anak harus berhenti mengharapkan sesuatu dari orang lain, atau dari hidupnya, yang memang orang lain tidak memilih untuk memberikan pada mereka. Harapan agar orang tua tidak bercerai, padahal itu merupakan pilihan yang telah dilakukan orang tua, hanyalah akan menambah rasa sakit pada anak. Harus diingatkan pada diri anak sendiri bahwa mereka tetap dapat berharap memperoleh kesehatan, cinta dan kedamaian, serta bekerja keras untuk mendapatkannya.
  7. Gunakan energi yang dipunyai anak untuk mencari jalan lain guna mencapai tujuan positifnya, daripada menikmati pengalaman yang telah menyakitinya atau memutar kembali rasa sakit yang ada.
  8. Hidup yang lebih hidup adalah “revenge” yang terbaik. Daripada terfokus pada perasaan yang terluka dan secara tidak langsung mengakui serta membiarkan orang yang menyebabkan rasa sakit menguasainya, lebih baik belajar untuk mencari cinta, keindahan dan kebaikan di sekitarnya. Pemaafan berkaitan dengan kekuatan diri pribadi seseorang.
  9. Rubah cerita menyedihkannya dengan mengingatkannya tentang pilihan berani untuk memaafkan.

BAB III

PENUTUP

A.      Kesimpulan

Dari pembahasan diatas, telah kita ketahui bahwa di dalam perjalanan sebuah keluarga, sering ada jalan godaan, gangguan, bahkan mungkin juga bencana. Hal ini membuat seisi keluarga merasa susah, sedih, bahkan ada pula yang jadi berantakan. Ketenangan yang dicita-citakan oleh semua anggota keluarga menjadi terguncang. Namun hal ini bukanlah akhir dari segalanya. Masih banyak cara untuk menyelesaikannya, masih banyak jalan menuju ke Roma, dan masih banyak cara untuk mewujudkan keluarga sakinah.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Prof. Dr. H. Sofyan S. Willis. 2011. Konseling Keluarga. Bandung: Alfabeta

http://depdiknas.go.id, Editorial Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Edisi 36.

http://health.detik.com/read/2009/10/16/120222/1222659/764/tetap-bahagia-menjadi-orangtua-tunggal

http://www.tabloidnova.com/Nova/Keluarga/Pasangan/Sukses-Menjadi-Orangtua-Tunggal

http://www.kompas.com/kesehatan/news/0503/18/110246.htm

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s