Makalah: Bimbingan dan Penyuluhan Islam Pada Masyarakat Pedesaan

Posted: 08/05/2012 in Guidance and Counseling

BAB I PENDAHULUAN

1.1         Latar Belakang

Masyarakat (sebagai terjemahan istilah society) adalah sekelompok orang yang membentuk sebuah sistem semi tertutup (atau semi terbuka), dimana sebagian besar interaksi adalah antara individu-individu yang berada dalam kelompok tersebut. Lebih abstraknya, sebuah masyarakat adalah suatu jaringan hubungan-hubungan antar entitas-entitas. Masyarakat adalah sebuah komunitas yang interdependen (saling tergantung satu sama lain). Umumnya, istilah masyarakat digunakan untuk mengacu sekelompok orang yang hidup bersama dalam satu komunitas yang teratur.

Masyarakat (society) merupakan istilah yang digunakan untuk menerangkan komuniti manusia yang tinggal bersama-sama. Boleh juga dikatakan masyarakat itu merupakan jaringan perhubungan antara pelbagai individu. Dari segi perlaksaan, ia bermaksud sesuatu yang dibuat – atau tidak dibuat – oleh kumpulan orang itu. Masyarakat merupakan subjek utama dalam pengkajian sains sosial.

Perkataan society datang daripada bahasa Latin societas, “perhubungan baik dengan orang lain”. Perkataan societas diambil dari socius yang bererti “teman”, maka makna masyarakat itu adalah berkait rapat dengan apa yang dikatakan sosial. Ini bermakna telah tersirat dalam kata masyarakat bahawa ahli-ahlinya mempunyai kepentingan dan matlamat yang sama. Maka, masyarakat selalu digunakan untuk menggambarkan rakyat sesebuah negara.

Walaupun setiap masyarakat itu berbeza, namun cara ia musnah adalah selalunya sama: penipuan, pencurian, keganasan, peperangan dan juga kadangkala penghapusan etnik jika perasaan perkauman itu timbul. Masyarakat yang baru akan muncul daripada sesiapa yang masih bersama, ataupun daripada sesiapa yang tinggal.

Keberagaman budaya, suku, ras, dan etnis merupakan suatu warna dalam hidup. Dengan semua perbedaan itu, berbeda pula hidup sosial mereka. Sama halnya dengan masyarakat pedesaan. Masyarakat pedesaan sangatlah berbeda dengan masyarakat kota, masyarakat pesisir, dan sebagainya.

 Indikasi masyarakat pedesaan adalah sekumpulan atau sekelompok individu yang masih jauh dari IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi). Meskipun sekarang IPTEK telah masuk ke lingkup mereka, tapi mereka masih menolak dengan hal yang berbau IPTEK. Semua itu disebabkan salah satunya yaitu, pegangan atau prinsip hidup.

Untuk masuk ke lingkup mereka dengan tujuan melakukan Bimbingan dan Penyuluhan Islam Pada Masyarakat Pedesaan, terlebih dahulu kita harus mengetahui ciri – ciri dan bagaimana melakukan pendekatan kepada mereka. Hal ini merupakan kunci awal bagi seorang Konselor atau Penyuluh agar dapat masuk ke lingkup mereka.

Sesuai dengan penjelasan di atas, kami akan mencoba menguraikan bagaimana cara melakukan “Bimbingan dan Penyuluhan Islam Pada Masyarakat Pedesaan”.

1.2         Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, kami mengambil rumusan masalah diantaranya sebagai berikut:

  1. Apa yang dimaksud dengan masyarakat?
  2. Apa saja faktor – faktor atau unsur – unsur masyarakat?
  3. Bagaimana ciri atau kriteria masyarakat yang baik?
  4. Apa yang dimaksud dengan desa atau pedesaan?
  5. Apa saja unsur – unsur desa?
  6. Apa saja fungsi desa?
  7. Bagaimana Karakteristik umum masyarakat desa?
  8. Bagaimana cara menyikapi dan beradaptasi dengan masyarakat desa?
  9. Bagaimana proses bimbingan dan penyuluhan Islam pada masyarakat pedesaan?

 

BAB II PEMBAHASAN

2.1     Pengertian Masyarakat

Berikut di bawah ini adalah beberapa pengertian masyarakat dari beberapa ahli sosiologi dunia, diantaranya:

a.    Menurut Selo Sumardjan masyarakat adalah orang-orang yang hidup bersama dan menghasilkan kebudayaan.

b.    Menurut Karl Marx masyarakat adalah suatu struktur yang menderita suatu ketegangan organisasi atau perkembangan akibat adanya pertentangan antara kelompok –  kelompok yang terbagi secara ekonomi.

c.    Menurut Emile Durkheim masyarakat merupakan suau kenyataan objektif pribadi – pribadi yang merupakan anggotanya.

d.   Menurut Paul B. Horton dan C. Hunt masyarakat merupakan kumpulan manusia yang relatif mandiri, hidup bersama – sama dalam waktu yang cukup lama, tinggal di suatu wilayah tertentu, mempunyai kebudayaan sama serta melakukan sebagian besar kegiatan di dalam kelompok atau  kumpulan manusia tersebut.

2.2     Faktor – Faktor atau Unsur – Unsur Masyarakat

Menurut Soerjono Soekanto alam masyarakat setidaknya memuat unsur sebagai berikut ini:

a.    Berangotakan minimal dua orang.

b.    Anggotanya sadar sebagai satu kesatuan.

c.    Berhubungan dalam waktu yang cukup lama yang menghasilkan manusia baru yang saling berkomunikasi dan membuat aturan-aturan hubungan antar anggota masyarakat.

d.   Menjadi sistem hidup bersama yang menimbulkan kebudayaan serta keterkaitan satu sama lain sebagai anggota masyarakat.

2.3     Ciri atau Kriteria Masyarakat yang Baik

Menurut Marion Levy diperlukan empat kriteria yang harus dipenuhi agar sekumpulan manusia bisa dikatakan / disebut sebagai masyarakat, diantaranya:

a.    Ada sistem tindakan utama.

b.    Saling setia pada sistem tindakan utama.

c.    Mampu bertahan lebih dari masa hidup seorang anggota.

d.   Sebagian atau seluruh anggota baru didapat dari kelahiran atau  reproduksi manusia.

2.4     Pengertian Desa atau Pedesaan

Menurut Sutardjo Kartohadikusuma: “Desa adalah suatu kesatuan hukum dimana bertempat tinggal suatu masyarakat pemerintahan sendiri”.

Menurut Bintarto: “Desa merupakan perwujudan atau kesatuan geografi, sosial, ekonomi, politik, dan kultural yang terdapat di situ (suatu daerah) dalam hubungannya dan pengaruhnya secara timbal – balik dengan daerah lain.

Menurut Paul H. Landis: “Desa adalah penduduknya kurang dari 2.500 jiwa. Dengan ciri-ciri umumnya sebagai berikut:

a.    Mempunyai pergaulan hidup yang saling kenal mengenal antara ribuan jiwa.

b.    Ada pertalian perasaan yang sama tentang kesukaan terhadap kebiasaan.

c.    Cara berusaha (ekonomi) adalah agraris yang paling umum yang sangat dipengaruhi alam seperti: iklim, keadaan, alam, kekayaan alam, sedangkan pekerjaan yang bukan agraris adalah bersifat sambilan.

d.   Sistem kehidupannya berkelompok.

e.    Termasuk ke dalam masyarakat homogen dalam hal mata pencaharian, agama, adat-istiadat.

f.     Homogenitas sosial.

g.    Hubungan primer.

h.    Kontrol sosial yang ketat.

i.      Gotong royong.

j.      Ikatan sosial.

k.    Magic religius.

2.5         Unsur – Unsur Desa

a.    Daerah, merupakan luas dan batas lingkungan geografis setempat.

b.    Penduduk, hal yang meliputi jumlah pertambahan, kepadatan, persebaran dan mata pencaharian penduduk desa setempat.

2.6         Fungsi Desa

  • Sebagai suatu daerah pemberian bahan makanan pokok seperti padi, jagung, ketela, disamping bahan makanan lain seperti kacang, kedelai, buah-buahan, dan bahan makanan lain yang berasal dari hewan.
  • Sebagai lumbung bahan mentah dan tenaga kerja.
  • Dari segi kegiatan kerja desa dapat merupakan desa agraris, desa manufaktur, desa industri, desa nelayan, dsb.

Menurut Sutopo Yuwono: “Salah satu peranan pokok desa terletak di bidang ekonomi. Daerah pedesaan merupakan tempat produksi pangan dan produksi komoditi ekspor. Peranan yang vital menyangkut produksi pangan yang akan menentukan tingkat kerawanan dalam jangka pembinaan ketahanan nasional. Oleh karena itu, peranan masyarakat pedesaan dalam mencapai sasaran swasembada pangan adalah penting sekali, bahkan bersifat vital.

2.7         Karakteristik Umum Masyarakat Desa

Masyarakat desa selalu memiliki ciri-ciri atau dalam hidup bermasyarakat, yang biasanya tampak dalam perilaku keseharian mereka. Pada situasi dan kondisi tertentu, sebagian karakteristik dapat digeneralisasikan pada kehidupan masyarakat desa di Jawa. Namun demikian, dengan adanya perubahan sosial religius dan perkembangan era informasi dan teknologi, terkadang sebagian karakteristik tersebut sudah “tidak berlaku”. Berikut ini disampaikan sejumlah karakteristik masyarakat desa, yang terkait dengan etika dan budaya mereka, yang bersifat umum yang selama ini masih sering ditemui. Setidaknya, ini menjadi salah satu wacana bagi kita yang akan bersama-sama hidup di lingkungan pedesaan.

a.    Sederhana

Sebagian besar masyarakat desa hidup dalam kesederhanaan. Kesederhanaan ini terjadi karena dua hal:

  • Secara ekonomi memang tidak mampu.
  • Secara budaya memang tidak senang menyombongkan diri. 
  • b.    Mudah curiga

Secara umum, masyarakat desa akan menaruh curiga pada:

  • Hal-hal baru di luar dirinya yang belum dipahaminya
  • Seseorang/sekelompok yang bagi komunitas mereka dianggap “asing”
  • c.    Menjunjung tinggi “ungguh – ungguh”

Sebagai “orang Timur”, orang desa sangat menjunjung tinggi kesopanan atau “unggah-ungguh” apabila:

  • Bertemu dengan tetangga.
  • Berhadapan dengan pejabat.
  • Berhadapan dengan orang yang lebih tua/dituakan.
  • Berhadapan dengan orang yang lebih mampu secara ekonomi.
  • Berhadapan dengan orang yang tinggi tingkat pendidikannya.
  • d.    Guyub, kekeluargaan

Sudah menjadi karakteristik khas bagi masyarakat desa bahwa suasana kekeluargaan dan persaudaraan telah “mendarah-daging” dalam hati sanubari mereka.

e.    Lugas

“Berbicara apa adanya”, itulah ciri khas lain yang dimiliki masyarakat desa. Mereka tidak peduli apakah ucapannya menyakitkan atau tidak bagi orang lain karena memang mereka tidak berencana untuk menyakiti orang lain. Kejujuran, itulah yang mereka miliki.

f.      Tertutup dalam hal keungan

Biasanya masyarakat desa akan menutup diri manakala ada orang yang bertanya tentang sisi kemampuan ekonomi keluarga. Apalagi jika orang tersebut belum begitu dikenalnya. Katakanlah, mahasiswa yang sedang melakukan tugas penelitian survei pasti akan sulit mendapatkan informasi tentang jumlah pendapatan dan pengeluaran mereka.

 g.    Perasaan “minder” terhadap orang kota

Satu fenomena yang ditampakkan oleh masayarakat desa, baik secara langsung ataupun tidak langsung ketika bertemu/bergaul dengan orang kota adalah perasaan mindernya yang cukup besar. Biasanya mereka cenderung untuk diam/tidak banyak omong.

 h.    Menghargai orang lain

Masyarakat desa benar-benar memperhitungkan kebaikan orang lain yang pernah diterimanya sebagai “patokan” untuk membalas budi sebesar-besarnya. Balas budi ini tidak selalu dalam wujud material tetapi juga dalam bentuk penghargaan sosial atau dalam bahasa Jawa biasa disebut dengan “ngajeni”.

 i.      Jika diberi janji, akan selalu ingat

Bagi masyarakat desa, janji yang pernah diucapkan seseorang/komunitas tertentu akan sangat diingat oleh mereka terlebih berkaitan dengan kebutuhan mereka. Hal ini didasari oleh pengalaman/trauma yang selama ini sering mereka alami, khususnya terhadap janji-janji terkait dengan program pembangunan di daerahnya.

Sebaliknya bila janji itu tidak ditepati, bagi mereka akan menjadi “luka dalam” yang begitu membekas di hati dan sulit menghapuskannya. Contoh kecil: mahasiswa menjanjikan pertemuan di Balai Desa jam 19.00. Dengan tepat waktu, mereka telah standby namun mahasiswa baru datang jam 20.00. Mereka akan sangat kecewa dan selalu mengingat pengalaman itu.

 j.      Suka gotong royong

Salah satu ciri khas masyarakat desa yang dimiliki dihampir seluruh kawasan Indonesia adalah gotong-royong atau kalau dalam masyarakat Jawa lebih dikenal dengan istilah “sambatan”. Uniknya, tanpa harus dimintai pertolongan, serta merta mereka akan “nyengkuyung” atau bahu-membahu meringankan beban tetangganya yang sedang punya “gawe” atau hajatan. Mereka tidak memperhitungkan kerugian materiil yang dikeluarkan untuk membantu orang lain. Prinsip mereka: “rugi sathak, bathi sanak”. Yang kurang lebih artinya: lebih baik kehilangan materi tetapi mendapat keuntungan bertambah saudara.

 k.    Demokrasi

Sejalan dengan adanya perubahan struktur organisasi di desa, pengambilan keputusan terhadap suatu kegiatan pembangunan selalu dilakukan melalui mekanisme musyawarah untuk mufakat. Dalam hal ini peran BPD (Badan Perwakilan Desa) sangat penting dalam mengakomodasi pendapat/input dari warga.

 l.      Religius

Masyarakat pedesaan dikenal sangat religius. Artinya, dalam keseharian mereka taat menjalankan ibadah agamanya. Secara kolektif, mereka juga mengaktualisasi diri ke dalam kegiatan budaya yang bernuansa keagamaan. Misalnya: tahlilan, rajaban, Jumat Kliwonan, dll.

2.8         Cara Menyikapi atau Beradaptasi

a.    Bersikap “andhap asor”

Sebagai “komunitas tamu” yang berasal dari luar komunitas masyarakat desa seyogyanya kita mengambil posisi yang “merendah” atau minimal “seimbang” sekalipun secara materi dan intelektualitas lebih tinggi mereka.

b.    Bersahabat

Sifat arogan harus dikikis habis, diganti dengan perilaku yang bersahabat dan sumedulur(bersaudara). Sebagai tamu sudah semestinya tidak bersikap arogan dan menunjukkan sifat dan perilaku kekotaan.

c.    Menghargai

Sebagai reaksi atas sikap kekeluargaan dari masyarakat desa, sepantasnya kita juga menghargai mereka. Sikap menghargai ini dapat diberikan dalam hal:

  • Memahami pola pikir mereka yang berbeda kontra dengan pola pikir kita
  • Menerima pemberian sesuatu sebagai bentuk “tresno” (kasih sayang) mereka kepada kita.
  • Memahami pola hidup mereka yang jauh berbeda dengan pola hidup kita

d.    Sopan santun

Dalam rangka mengikuti adat/istiadat/kebiasaan yang berlaku di desa maka sudah selayaknya kita menyesuaikan diri, diantaranya:

  • Dalam hal berpakaian, sebaiknya tidak mengenakan pakaian “ala kota”.
  • Dalam gaya hidup, sebaiknya tidak menunjukkan sikap yang menurut mereka “pamer materi”. Misalnya: ber-handphone ria ditengah-tengah mereka, ber-walkman ria sambil berbicara dengan mereka.
  • Dalam hal berbicara, sebaiknya tidak menggunakan kata-kata/kalimat yang hanya bisa dipahami oleh kalangan mahasiswa. Misalnya: bahasa Inggris/bahasa “ngilmiah”.

e.    Terbuka

Sebagai reaksi positif atas keterbukaan yang ditunjukkan oleh masyarakat desa maka seyogyanya kita juga menunjukkan sikap terbuka kepada mereka, misalnya:

  • Jika tuan rumah sudah berbicara apa adanya tentang menu makanan sehari-hari maka jika kita memang kurang suka sebaiknya “ngomong”. Contoh: Si A tidak suka makan mie. Sebaiknya ngomong ke tuan rumah daripada nggerundhel.
  • Jika keluar dari rumah pondokan sebaiknya menjelaskan secara terbuka: mau kemana, dengan siapa dan kapan pulang. Hal ini penting, karena biasanya mahasiswa sudah dianggap sebagai anak sendiri.

f.      Membantu tanpa pamrih

Mengacu pada karakteristik gotong-royong yang dimiliki masyrakat desa, maka sudah semestinya kita menyesuaikan dan mengikuti kebiasaan itu. Bekerja dan membantu masyarakat desa tanpa pamrih. Dengan senang hati mengikuti setiap acara tradisional (misal: kenduri) yang diadakan di desa. Sekalipun tetap memperhitungkan waktu kerja program COP.

g.    Tepat waktu

Demi menjaga kepercayaan masyarakat desa, sebaiknya perlu diperhatikan ketepatan waktu dalam setiap acara peretemuan yang melibatkan orang banyak. Hal ini sangat penting agar masyarakat desa juga menaruh kepercayaan kepada kita sehingga sosialisasi program dan keterlanjutan pelaksanaannya dapat terjaga.

h.    Silahturahmi

Sebagai “tamu asing” sudah menjadi kebiasaan yang lumrah jika kita harus melakukan silaturahmi (= memperkenalkan diri) kepada warga masyarakat desa agar didalam melakukan sosialisasi dan pelaksanaan program tidak mengalami hambatan hanya dikarenakan belum kenal. Silaturahmi ini dapat dilakukan secara formal maupun informal. Misal:

  • Ketika melakukan sosialisasi ketemu warga desa, sebaiknya langsung memperkenalkan diri (informal).
  • Perkenalan diri secara formal di Balai Desa (formal).

i.      “Srawung”

Selama menjalankan program COP sebaiknya kita tetap menjaga hubungan baik dengan masyarakat desa sehari-hari. Jangan sekali-kali kita mengucilkan diri dan seolah membentuk kelompok “eksklusif  orang kota”.

j.      Gotong-royong

Partisipatif, ini kata kuncinya ! Dalam menjalankan program kerja jangan sampai meninggalkan prinsip dasar, yaitu PARTISIPASI MASYARAKAT. Pada dasarnya program dapat berjalan karena ada partisipasi, baik dari seluruh anggota kelompok maupun masyarakat setempat. Memunculkan minat berpartisipasi tidaklah mudah, karena itu dibutuhkan komitmen yang tinggi yang diawali dari diri sendiri.

 

k.    Demokratis

Mencermati iklim demokrasi yang juga sudah merambah di desa, hendaknya kita bersedia mengikuti proses yang berlangsung. Karena itu, dalam merencanakan dan melaksanakan program kita harus melibatkan BPD (Badan Perwakilan Desa). Ini juga berarti kita menghargai proses demokrasi dalam sebuah “lembaga” yang namanya desa.

l.      Religius

Menyikapi kenyataan ini, secara psikologis kita tidak perlu khawatir atau bahkan takut karena justru akan menyulitkan kita untuk bersosialisasi.  Sikap menghargai, itulah yang mesti kita kembangkan ! Kita mesti tahu diri disaat masyarakat desa sedang menjalankan ibadah agamanya. Karena itu dalam menyusun suatu kegiatan, pertimbangan faktor “lima waktu” sangat penting untuk diperhatikan.

2.9     Proses Bimbingan dan Penyuluhan Islam Pada Masyarakat Pedesaan

Proses Bimbingan dan penyuluhan Islam pada masyarakat desa, berdasarkan karakteristik masyarakat desa dan cara menyikapi di atas, maka dalam prosesbimbingannya adalah:

  • Dapat dilakukan dengan komunikasi antar individu (face to face). Ketika proses sosialisasi secara tidak langsung kita dapat memberikan bimbingan.
  • Dilakukan dengan cara memberikan bimbingan dan penyuluhan pada aparat desa agar dapat tersampaikan pada masyarakat desa.
  • Dengan cara mengumpulkan masyarakat desa untuk mendapat bimbingan dan penyuluhan.
  • Menggali, memanfaatkan potensi, dan menggerakan swadaya gotong royong masyarakat untuk pembangunan desa.
  • Memberikan bimbingan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan pada masyarakat desa.
  • Membina kerjasama antar lembaga yang ada dalam masyarakat desa untuk pembangunan.
  • Memberikan bimbingan dan penyuluhan untuk meningkatkan peranan wanita dalam mewujudkan Keluarga Sejahtera.
  • Karena mayoritas masyarakat pedesaan berprofesi sebagai petani, peternak, dapat dilakukan dengan cara penyuluhan yang sesuai dengan profesi mereka dengan tujuan meningkatkan SDM.

BAB III

PENUTUP

3.1     Kesimpulan

          Masyarakat desa adalah sejumlah penduduk yang merupakan kesatuan masyarakat dan bertempat tinggal dalam suatu wilayah yang merupakan organisasi pemerintahan terendah langsung di bawah camat dan berhak menyelenggarakan rumah tangganya sendiri.

Faktor – Faktor atau Unsur – Unsur Masyarakat

  • Berangotakan minimal dua orang.
  • Anggotanya sadar sebagai satu kesatuan.
  • Berhubungan dalam waktu yang cukup lama
  • Menjadi sistem hidup bersama yang menimbulkan kebudayaan serta keterkaitan satu sama lain sebagai anggota masyarakat

Ciri atau Kriteria Masyarakat yang Baik

  • Ada sistem tindakan utama.
  • Saling setia pada sistem tindakan utama.
  • Mampu bertahan lebih dari masa hidup seorang anggota.
  • Sebagian atau seluruh anggota baru didapat dari kelahiran atau  reproduksi manusia.

Unsur – Unsur Desa

  • Daerah, merupakan luas dan batas lingkungan geografis setempat.
  • Penduduk, hal yang meliputi jumlah pertambahan, kepadatan, persebaran dan mata pencaharian penduduk desa setempat.

Fungsi Desa

  • Sebagai suatu daerah pemberian bahan makanan pokok seperti padi, jagung, ketela, disamping bahan makanan lain seperti kacang, kedelai, buah-buahan, dan bahan makanan lain yang berasal dari hewan.
  • Sebagai lumbung bahan mentah dan tenaga kerja.
  • Dari segi kegiatan kerja desa dapat merupakan desa agraris, desa manufaktur, desa industri, desa nelayan, dsb.

Karakteristik masyarakat desa :

  • Sederhana
  • Mudah curiga
  • Menjujung tinggi “unguh-unguh”
  • Guyub, kekeluargaan
  • Lugas
  • Tertutup dalam hal keungan
  • Perasaan “minder” terhadap orang kota
  • Menghargai orang lain
  • Jika diberi janji, akan selalu ingat
  • Suka gotong royong
  • Demokrasi
  • Religius

Cara Menyikapi atau Beradaptasi

  • Bersikap “andhap asor”
  • Bersahabat
  • Menghargai
  •   Sopan santun
  • Terbuka
  • Membantu tanpa pamrih
  • Tepat waktu
  • Silahturahmi
  •  “Srawung”
  • Gotong-royong
  • Demokratis
  • Religius

2.9     Proses Bimbingan dan Penyuluhan Islam Pada Masyarakat Pedesaan

  • Dapat dilakukan dengan komunikasi antar individu (face to face).
  • Dilakukan dengan cara memberikan bimbingan dan penyuluhan pada aparat desa
  • Dengan cara mengumpulkan masyarakat desa untuk mendapat bimbingan dan penyuluhan.
  • Menggali, memanfaatkan potensi, dan menggerakan swadaya gotong royong masyarakat untuk pembangunan desa.
  • Memberikan bimbingan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan pada masyarakat desa.
  • Membina kerjasama antar lembaga yang ada dalam masyarakat desa untuk pembangunan.
  • Memberikan bimbingan dan penyuluhan untuk meningkatkan peranan wanita dalam mewujudkan Keluarga Sejahtera.
  • Karena mayoritas masyarakat pedesaan berprofesi sebagai petani, peternak, dapat dilakukan dengan cara penyuluhan yang sesuai dengan profesi mereka dengan tujuan meningkatkan SDM.

3.2     Saran dan Pesan

Demikianlah makalah yang kami buat. Makalah ini masih jauh dari sempurna, diperlukan saran dan kritik  agar makalah kami dapat lebih baik lagi selanjutnya. Demikianlah makalah ini kami buat dengan sebaik mungkin. Dan tujuan makalah ini dapat memberikan manfaat, menambah wawasan dan ilmu bagi pembaca dan bagi kami selaku penulis khususnya. Dan karena itu kami membutuhkan saran dan kritik yang dapat memotivasi kami untuk lebih baik lagi.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Abu, Drs. 2003. Ilmu Sosial Dasar. Jakarta: Rineke Cipta.

Munandar. M. Soelaeman. Ilmu Sosial Dasar teori dan konsep ilmu sosial. 1986. PT. Eresco: Bandung

Noor, Arifin. Ilmu Sosial Dasar. 1999. Pustaka Setia: Bandung

Soekanto. Soerjono. Sosiologi Suatu Pengantar. 2009. Rajawali Pers: Jakarta.

http://ichwanmuis.com/?p=135

http://gudangmakalah.blogspot.com/2009/02/makalah-ciri-masyarakat-desa_08.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s